Skip navigation

These couple of months have been rough. I wish I could pull eenie meenie miney mo or undo crucial decision I made couple years ago. 

But life rarely fair. And, actually,  that give us chance to try harder each time we stumble. If we look at it in a positive way.. Lol. Right now, I’m bitter and.. Well, I’m always bitter. 

Hopefully both myself and my son will be alright shall I finally decide what’s best and what’s next for us. 

Advertisements

image

Most people told me that I tend to complicate everything. Some said I’m exaggerated. I’m not the type of person who dare to talk back. So, I prefer to just smile.

I remember Sang In famously said that when people told her not to over-thinking stuff, she tends to think not to over-thinking stuff. Hence, the issue is more complicated. That’s what I feel all the time.

In my head, there are lot of worst case scenario. So many what if. Dozen of fears. Countless anxiety. And it’s so overwhelming.

Anxiety. I know the term so well yet I have no clue on how to solve the depressing feeling.

Many times I dare myself just to leave everything behind. Focus on my baby. Go back to what I’m good at, which is writing. But to raise a baby, I need money and what I got from writing maybe adequate if I am still single or having a rich husband to support our expenses.

We are struggling. Both me and my husband. And I don’t have the courage to let him as the sole breadwinner. I just don’t.. Because I know the number. And I can’t let my mother having another breakdown because I’m choosing to be  a stay home mom. I just can’t..

image

My son is so unimpressed when I'm "driving"


Read More »

image

Jennifer Aniston in Vanity Fair

The excerpt above is captured from Jennifer Aniston first interview post her divorce in which she mentioned her ex is losing sensitivity chip.

I think this is the second time I read the piece. It was triggered after I read Jennifer Garner (also) first interview after her divorce with some man she dubbed ‘complicated’.

No. I’m not going to talk about marriage. It’s their words that makes my thumbs finally tapping into button of alphabets.

It’s not exactly the best days at work. So much pressure and high expectations yet so many lousy people who barely do their job. Yes, the usual corporate slave complain.

But then, as I recall what my husband years ago.. At time when I feel so desperate dealing with work..

“There will be far more excruciating phase at life, in the future, that you will have to go through. Consider all the hassle as your training.. To make you stronger.”

Of course at that time, I was pissed off listening to him. An artist and his own boss who never endured the beauty of corporate life.

“Ugh. Please, don’t lecture me stuff you didn’t know,” I said.

But his words perfectly stamped in my memory. Everytime I have a bad day, I rephrase his words, reminding myself that I will pull through this. Because I know I take my work seriously and I’m good at what I do. I get things done. I’m proven.

Well, okay.. I cry a bit in the toilet in the toughest time, I won’t lie. A little bruised, but I’m okay.

Dalam hidup, saya memberi kesempatan kepada diri sendiri sebanyak 3 kali. Bila kali ketiga memberi hasil mengecewakan, saya memutuskan berpaling.

Ketika kita terlalu banyak memberi kesempatan kepada seseorang atau sesuatu, kitalah yang akhirnya menjadi bual-bualan. Mencoba membuat seseorang menyukai kita dengan mengubah diri, misalnya.

Saya bersyukur berhenti melakukannya saat memasuki umur 20 tahun.

Buat apa coba? Malah enggak happy. Kosong melompong. Makanya saya enggak pernah pengen masuk clique apa pun kalau ga klik. Lebih baik hanya bertahan di fase hello-goodbye-friend. If there any such things. Alhasil teman saya sedikiiiit sekali. Satu-satunya sahabat yang saya miliki hanya suami. Ehm, kalau itu masuk kategori ya.

Memasuki usia 30, saya punya julukan baru buat diri sendiri. Manusia tidak berkeinginan. Having my novel published? Oh baby, it’s been written off my list. Mengejar karier di perusahaan besar itu? Rubbish. Working late, on weekend, or after office hour? I rather cuddling and kissing my baby.

Manusia tidak berkeinginan ini juga sudah berhenti berdebat.
Kadang saya suka gemes dengan orang yang berulang kali menceramahi hal yang sebenarnya saya sudah tahu. Saya memilih jawaban default semacam, “Oh gitu..”, “Iya, yaaa..”

BERES.

Ketika diceramahi, saya merasa orang tersebut sedang menyesali pilihannya dan dia tidak ingin saya melakukan hal serupa. Atau, ketika orang bertanya “pengalaman pribadi”, ada orang yang malah berlomba-lomba menjadi korban. “Eh hidup gue lebih susah daripada lo,” atau, “Ih, gue sih ga gitu ya, Alhamdulillah.”

Honey, aint u asked me first about MY experience, MY view?

Well, kalau dipikir-pikir, usia makin bertambah membuat saya makin menahan diri. Tentu saja, gemes masih ada di hati. Tapi, selebihnya saya tidak mau membuang energi untuk beberapa jenis orang di dunia ini.

Di hidup baru ini (baca: pekerjaan), saya menyukainya karena beban yang enteng. Segelintir orang yang bebal hanya membuat kesal, tapi tidak menimbulkan keinginan untuk memperbaiki atau berbaik hati.

I simply simplify my life.

Pregnancy makes me do imposibble thing.
I quit smoking and drinking coffee. Routines that I did everyday and help me through days and nights. I dont have social life, I’m a homebody. I mean I have couple of friends, but that’s it. We meet occasionally, due to our hectic schedule. Mingling ain’t mandatory in my life. I get bored easily in a crowded place. That’s more his thing. I like being at home, watching tv, or simply just surfing the internet.

But now, with a hard-to-please-baby in my arm, everything change. Well, basically my whole life is changing. And it suck. Now I know how precious is social life, or to be exact.. Me time. I miss sitting alone in a cafe while enjoying my cup of cappucinno and smoking my white lights. Well, I can do the first and second, maybe I need to wait for 2 years to do the latter. I have maid. She can take care my baby for one to two hours, but I can’t let that happen. My heart won’t.

Everytime I would do that.. I see my baby and my heart sunk. I’m on maternity leave, it’s like a ticking bomb, because it’s so short. I want to have as many times I could with him. But when my husband decide to go out, either work or simply as seeing his friends’s exhibition, I feel jealous.

One day, my baby won’t sleep and he decided to go watching movies with his friends. Some sort of art things and his manager told him so. Off he go, and then pouring rain so hard. Worry me text him, “Ujan!” I said, as a warning for him since the event is held outdoor. In return, he send me picture of him and his girl friend wearing rain coat, all wet, and looks so happy. WOW! I am mad as hell. He’s out there having fun. While I’m here with crying baby that won’t sleep. It’s so unfair. And I cry.

You see, that’s the thing. No matter how hard I’m denying, it’s true. Having child will make marriage feel like a job. Harsh reality. Everynight you lack of sleep, trying to put baby to sleep in his own crib (this is hard to do) while he’s sleeping until daylight. And off he go meeting friends. He ask me not to smoke, while he puff ciggie. He told me to use cloth diaper which makes me change it lot of time and it’s tiring, while he’s there chatting with his friends talking about work and fun things.

Unfair. Unfair. Unfair.

Today he’s going to another art exhibition. Maybe I just cant stand it anymore, so I said harsh thing, while our maid was there. He’s mad. Well I’m mad also. And now we’re not talking to each other. Very mature, eh!

Well, that’s the story for tonight.

And yes, you’re welcome future self.

Hari ini tepat dua minggu (lebih beberapa jam) Seif lahir.
Jadi, seperti apa rasanya menjadi ibu? Though maybe it’s too early to tell, being a mom is overwhelming.
Sekalipun pekerjaan memberi peluang untuk memberi “bocoran” seperti apa motherhood itu, tetap saja menjalankannya termasuk gampang-gampang sulit.

Well, let me tell you my story.

Pertama, saya berulang kali dehidrasi karena terus-menerus muntah. Istilah medisnya, Hyperemesis Gravidarum. Hanya tomat yang bisa saya makan. Sisanya, bahkan air putih, akan langsung keluar bak air terjun. Akhirnya pertengahan April, saya diinfus dan harus bed rest. Keadaan agak membaik setelah saya diterapi obat antimual yang ternyata dipakai oleh mereka yang menjalankan kemoterapi.

Kedua, tinggi badan yang seadanya ini membuat dokter J ragu saya bisa melahirkan normal. Meski demikian, dia tetap ingin mencobanya, asalkan berat badan bayi saya di bawah 3 kg. “Maksimal 2,8 kilo, Bu,” ujar dokter J. Alhasil, saya diet ketat dan menjalankan puasa Ramadan. Berhasil! Berat badan terkontrol. Tapi… Merayakan Lebaran selama lima hari di Ciwidey membuat berat badan yang tadinya cuma naik 1 ons, melonjak menjadi 2 kg. Huaaaaa.. rese! Akhirnya diet lagi, lebih ketat.
Ketiga, sebulan sebelum melahirkan, ada tes darah, kan?! Ternyata, saya tergolong anemia berat. Damn it! Semua gara-gara diet yang mengharuskan saya menghindari daging merah dan telur. Alhasil, saya harus diinfus dua kali sehari selama empat sesi. Infusnya biasa saja, sih, tapi dapat suster yang enggak bisa nemuin pembuluh darah yang pas itu agak nyebelin. Tusuk, cabut, tusuk, cabut. Uuuuh! Oh ya, I quit diet.

Keempat, sehari sebelum saya melahirkan, saya cek ke dokter bersama Al dan Ibu yang baru saja datang ke Jakarta (thanks Ibu, it means a lot). Kontraksi sudah teratur per 10 menit. Menurut USG, bayi saya berbobot 3,5 kg. Wow! Lalu, saya menjalani periksa dalam, sudah pembukaan 1. Sayangnya, bayi ini malah “naik” bukannya turun mencari jalan lahir. Penyebabnya, liang panggul saya terlalu sempit. Ini berarti saya harus caesar.

Buat perempuan “segala dirasa” seperti saya, ini mimpi buruk. Saya teringat pengalaman operasi geraham belakang yang menyakitkan. Lalu ini, dipasang kateter, dibius memakai jarum panjang, dan disayat-sayat hingga tujuh lapisan. Belum lagi proses pemulihan yang… ah sutralah.. hati kebat-kebit. Mau nangis, ga guna. Mau lari, apalagi. Hahaha.

PASRAH. Hanya itu yang bisa saya lakukan. Oh… dan meminta kateter dipasang setelah saya dibius.

Akhirnya tibalah tanggal 31 Oktober 2013. Sedari pukul 4 subuh, saya sudah tidak bisa tidur. Satu-satunya semangat adalah keinginan bertemu bayi di kandungan ini. Pukul 5 subuh, semua persiapan operasi dilakukan. Misalnya, dimasukkan gel ke pantat supaya saya bisa pupup dan tes alergi. Hmm, lucu, deh, tes alergi ini.. Di daerah tes, sama sekali tidak ada  alergi. Tapi, waktu saya berdiri, tiba-tiba alis saya gatal. But I was ignoring it. BIG MISTAKE! Untung saja, suster senior menyadari muka saya yang mulai bengkak dan merah-merah. Jadi, di ruang operasi, semua sudah bisa ditangani.

Caesar itu ternyata pengalaman absurd. Setelah dibius lokal, saya tiba-tiba tidak ingat apa pun. Lalu, ada  bayi kecil diangkat tinggi-tinggi yang sedang menangis. Kencang sekali. Saya hanya bisa bilang, “Kok, cepet amat keluarnya?” Lalu, saya hilang kesadaran lagi. Setelah itu, saya mencoba sekuat tenaga dan pikiran melakukan IMD. Rasanya sungguh absurd. Ada bayi kecil menempel di dada saya. “Seif…” ujar saya pelan. Hanya itu yang bisa saya ingat. Setelahnya, bayi saya diambil dan saya hilang kesadaran lagi. Btw beratnya 2,9 kg dan panjang 49 cm 🙂

Saya lalu dipindahkan ke ruang observasi. Lemas sekali rasanya. Lalu, ada suster yang bilang, “Ibu mau diberi PCA? Pereda sakit selama 24 jam? Kalau iya, nanti dokter A akan membuatkan.” PCA seharga 1 juta ini pun langsung saya ambil. Kayaknya ini antara pengaruh bius caesar dan keparnoan akan rasa sakit pasca operasi.

Ternyata di kamar perawatan, sudah banyak saudara yang menunggu. Saya, sih, masih antara sadar dan tidak sadar. Jadi, saya bisa ngobrol lalu tidur, terus bangun lagi. Si PCA ini juga keren. Tiap rasa sakit datang, saya tinggal menekannya lalu hilanglah sakitnya. Kata ipar yang dokter, PCA ini dua kali lebih hebat dibandingkan morphin. Oh my…

Well, sehebat-hebatnya PCA, begitu bius mereda… sakitnya sudah mulai terasa. Saya tidak boleh bergerak selama 24 jam. Kateter tetap dipasang hinggal 36 jam. Tapi, saya tetap harus menyusui. Dan, asal tahu saja yaaaa… mau gerak dikittttt aja itu sakitnya minta ampun. Hiks.

Lalu, ga berapa lama, saya gatal-gatal paraaah. Tadinya, saya pikir itu karena saya memaksa memakai perlak (takut darah nifas tembus ke kasur), sehingga muncul biang keringat. Ternyata, saya alergi obat. Entah obat apa, karena banyak sekali obat yang saya makan. Kemudian, alergi ini diperparah oleh telur. Punggung hingga pantat saya gosong dan bersisik, lalu ada semacam jerawat yang keluar di punggung serta agak besar.

Konsekuensinya, saya enggak diperbolehkan lagi mengonsumsi painkiller apa pun. MIMPI BURUK! Di saat yang sama, saya harus mulai berlatih miring ke kiri dan kanan, mengangkat dan menggerakan kaki, belajar duduk, lalu berdiri, dan berjalan. Tuhan, sakitnya minta ampun. Berjalan beberapa langkah aja, perut kayaknya mau copot. Hiks.

Drama ini lalu diperparah ketika saya harus mandi sendiri. “Enggak boleh basah, ya, Bu, perbannya.” Oke itu tidak masalah. Tapi, kenapa pipisnnya sakit banget!? Tangan saya sampai gemetar menahan pipis. Hiks. Ternyata, saya terkena infeksi saluran kandung kemih gara-gara kateter. Dan, ini baru ketahuan seminggu kemudian.

Drama lain menyusul. Ternyata bilirubin Seif mencapai 13 dan dia harus disinar. Ini berarti dia dipisahkan dari kamar. Huaaaa, patah hati sejadi-jadinya, deh. Rasanya enggak tega liat dia sendirian di boks, terus disinar biru sampai kulitnya kering-kering. Alhasil, saya nangis melulu. Padahal, saya harus setor ASI minimal 30 cc per dua jam. Jumlah yang amat sangat sedikit, ya! Praktiknya, sih, bikin nangis.  Saya stres meski tahu perawatan Seif itu biasa saja, ain’t nobody fault juga. Alhasil, ASI yang memang keluar sedikit di awal kelahiran bayi pun tambah seret. Payudara sudah keras sekali, tapi yang keluar hanya setetes dua tetes. Itu juga sudah dipijat sampai bikin meringis nyeri.

Sekarang, saya tinggal kontrol dua kali lagi ke dokter. Mengganti perban sekali lagi, lalu pasang KB.
By the way, mandilah selagi bisa mandi. Pasalnya, hal ini sangat saya rindukan hingga hari ini. :p

Hari ini, saya genap berusia 29 tahun.
Jika dulu, ulang tahun dirayakan dengan makan malam di restoran favorit, ritual tiup lilin potong kue, dan diberi hadiah, kali ini saya diberi hadiah yang lebih istimewa.

Bayi lelaki bernama Seif Attar Saleh bin Mahfudz. Ia lahir tanggal 31 Oktober 2013 yang membuat kami berada di naungan rasi Scorpio.

Hihihi, enggak kebayang kayak apa Al yang berzodiak Aries nanti menghadapi dua Scorpio. Semoga dia selalu sabar, seperti yang selalu ia lakukan selama ini dalam menghadapi saya.

Omong-omong soal suami. Kemarin dia bertanya apa hadiah yang saya inginkan. Saya bilang, “Enggak pengen apa-apa. Hidupnya udah komplet, bahagia..” Saya mengucapkan kalimat ini bukan dalam rangka gombal. Beneran! I truly feel this in my heart. Semua ini, tentu saja berkat andil suami. Oh how I love this man. Hihihi!

Oh ya, kali ini saya merayakan umur yang bertambah sambil menyusui Seif. Lalu, Al datang ke kamar dan mengucapkan selamat ulang tahun. Seif juga punya cara sendiri merayakan ulang tahun ibunya. Dia pupup! Hahaha. Lalu, kami membersihkan pupnya.

Setelah semua selesai, saya disemprot air pipisnya hahaha. Ini pengalaman pertama saya. Saking paniknya, tangan saya refleks menghalangi semprotan itu dan ditertawakan Al. Haha. Komedi tengah malam.

My life is more colorful. Thanks to my boys.

Okay. Gotta go. Diaper duty is calling!

Beberapa tahun lalu, saya menengok teman yang baru melahirkan tanpa didampingi suaminya. G bilang, si suami memang sedang dinas ke luar negeri dan proses melahirkan ini memang di luar dugaan. G yang blakblakan bercerita proses melahirkan bayinya. Saya hanya bisa berjengit menahan ngilu sembari mengagumi betapa hebatnya G bisa melalui proses ini tanpa suaminya.

Sekarang, sedikit banyak saya mengalami hal yang sama.
Suami pergi ke luar kota selama beberapa hari atau ke luar negeri selama beberapa minggu.
Saya tahu saya kuat dan bisa melakukan semua hal sendiri. Berangkat dan pulang kerja, liputan, makan, membereskan rumah, sampai kontrol kandungan. Ya, saya bisa, kok.

Satu hal yang saya tidak bisa adalah merasa kesepian.

Sewaktu suami pergi tur ke Eropa, setiap hari saya menangis. Ada saja yang bisa membuat saya menangis. Ibu yang menelepon tiap hari juga, duh.. suka menanyakan pertanyaan yang memancing seperti, “Ga sedih ditinggal sendirian?” Ya ampun, Bu… Ya sedih, lah. Sampai akhirnya saya menangis di kantor, lalu bilang, “Jangan telepon dulu kalau pertanyaannya setiap hari seperti itu..”

Kali ini, suami pergi ke Afrika. Seperti biasa dia bilang, “Ah cuma seminggu!” Duh, rasanya pengen teriak. Coba kalau dia jadi saya. Hamil tua, pegal di sana sini, sesak napas, kepanasan, mudah capek, super sensitif, banyak pikiran, masihkah dia akan mengatakan hal yang sama?

Laki-laki memang tidak sensitif.

Sebenarnya, 4 hari ini saya sudah bisa menahan emosi. Setidaknya, saya tidak menangis. Meski ada teman di kantor yang setiap hari bercerita mengenai kehamilan istrinya. Setiap saat dia menghampiri meja saya, lalu bercerita, “Hari ini, istriku begini…”, “Hari itu, bayiku begini…”, “Pasti kamu pegel-pegel, ya?”, “Kapan checkup?”, “Sudah tes darah?”

Bukannya saya tidak senang, sih, ada yang bertanya. Eh, koreksi, saya sebenarnya tidak senang ditanya-tanya. Saya juga tidak tertarik dengan cerita kehamilan siapa pun karena selalu berujung, “Lebih parah gue laaaaah..” Hahaha.
Jadi, Ketika dia bertanya soal checkup, misalnya, saya langsung ingat, “Yah, nanti Sabtu sendirian lagi, deh..”
Atau, ketika dia bertanya apakah saya pegal-pegal, saya langsung ingat badan ini rasanya jompo sekali. Bahkan counterpain cuma sanggup meredakan pegal selama lima menit, itu pun harus dioleskan orang lain.
Lah, ini siapa yang ngolesin? Terus siapa yang mijet? Lalu, gimana kalau nanti malam kram atau sesak napas lagi?

Akhirnya tangis itu meledak di Jumat sore.
Saya pulang menggunakan Commuter Line. Di Harmoni, saya melanjutkan perjalanan ke Juanda. Berdesak-desakan dan saya mundur setelah ada bapak-bapak membawa tas punggung di depan badannya mendorong saya sekuat tenaga, padahal saya sudah bilang kalau saya hamil.

Ketika saya dibantu oleh petugas dan ibu-ibu lain untuk berdiri di depan, ternyata masih ada saja yang calon penumpang yang mendorong-dorong. Tangan saya pun terjepit pintu bis TransJak. Sakit? Ya, pasti. Saya tidak bisa menggerakkan jari-jemari yang menghitam karena tergencet pintu itu.

Cuma dua halte untuk sampai ke Juanda, jalurnya pun steril. Itu berarti perjalanan hanya membutuhkan waktu 3 menit. Selama itu, entah kenapa saya tiba-tiba sediiiiiih sekali. Lalu, tes… tes… air mata mulai meluncur satu per satu… Hidung mulai kembang kempis… Saya menunduk saja. Tapi, kok, nangisnya makin gawat. Saya terpaksa menyeka air mata dengan kemeja, yang ternyata membuat tangisan makin kuat. Argh.

Ketika turun, saya menangis sambil sesenggukan. Saya berjalan cepat, sambil menghela napas panjang, tapi semua ini tak bisa menghentikan tangis saya. Anehnya, tangga halte Juanda menuju stasiun kereta terasa tak berat dinaiki. Biasanya, saya ngos-ngosan. Untung saja, tangis mereda ketika saya sudah mulai mengantre kereta.

Jadi, sedihnya karena apa?
Bisa karena tangan yang sakit, calon penumpang yang kurang ajar, tapi yang utama.. saya kesepian.
Meskipun ada instant messaging, tetap saja bertatap muka dan mengobrol langsung itu berbeda.
Tentu saja, kalau suami ada di sebelah saya, semua akan lebih mudah.

Sayangnya, tidak semua orang mengerti.

Kemarin seorang teman bertanya, “Kamu pernah iri?”
Lalu, saya menjawabnya, “Ya, lah.. Iri itu manusiawi, bo.”

Kami pun bercakap-cakap mengenai penyebab “iri”. Hampir sama karena kehidupan kami tak jauh berbeda. Setelah percakapan usai, saya teringat bahwa subjek keirian kami adalah orang-orang yang santai sekali dalam menjalani hidup. Hal ini pula yang membuat saya percaya, people who never expected anything, gets everything.

Banyak mimpi (dan ambisi) memang membuat saya lebih terpacu menjalani hidup. Tapi, saya kerap lelah karena jalan yang ditempuh ternyata tak semudah memencet-mencet tombol kalkulator.

Beberapa mimpi butuh belasan tahun untuk dicapai, dan dalam kurun waktu itu pula, ada banyak duri yang mesti direlakan menusuki kulit. Istilahnya, berdarah-darah.

Mimpi yang lain terbilang mini. Tapi, kalau saya nekat mewujudkannya, mimpi besar (yang di atas tadi) bisa rusak atau tertunda. Jadi, saya menunda (kadang mengucapkan selamat tinggal) mimpi mini dan memutuskan berjibaku kembali dengan mimpi besar.

Kadang, saya tertohok dengan teman yang berprinsip, “We count blessing, not number.” Saya memang kurang bersyukur dan hidup dalam ketakutan menghadapi masa depan. Tapi, angka juga tak berbohong. Semua hal di dunia ini membutuhkan nominal tertentu, kan?

Nah, akhir-akhir ini, kelelahan mengejar angka sudah mencapai titik klimaks. Pasalnya, hati ikut-ikutan merengek sedih. Pegal masih bisa hilang dengan pijatan, tapi kalau hati yang bermasalah, rasanya langkah pun terasa berat.

Saya ingin berhenti mengejar angka dan menikmati hidup.

Hal ini, tak pernah ada di kamus saya, lho. Tapi, saya benar-benar lelah. Dan, mungkin pemicu lainnya karena saya jenuh.

Bayiku, maafkan ibumu yang kerap khawatir.

%d bloggers like this: