Skip navigation

Monthly Archives: September 2014

Dalam hidup, saya memberi kesempatan kepada diri sendiri sebanyak 3 kali. Bila kali ketiga memberi hasil mengecewakan, saya memutuskan berpaling.

Ketika kita terlalu banyak memberi kesempatan kepada seseorang atau sesuatu, kitalah yang akhirnya menjadi bual-bualan. Mencoba membuat seseorang menyukai kita dengan mengubah diri, misalnya.

Saya bersyukur berhenti melakukannya saat memasuki umur 20 tahun.

Buat apa coba? Malah enggak happy. Kosong melompong. Makanya saya enggak pernah pengen masuk clique apa pun kalau ga klik. Lebih baik hanya bertahan di fase hello-goodbye-friend. If there any such things. Alhasil teman saya sedikiiiit sekali. Satu-satunya sahabat yang saya miliki hanya suami. Ehm, kalau itu masuk kategori ya.

Memasuki usia 30, saya punya julukan baru buat diri sendiri. Manusia tidak berkeinginan. Having my novel published? Oh baby, it’s been written off my list. Mengejar karier di perusahaan besar itu? Rubbish. Working late, on weekend, or after office hour? I rather cuddling and kissing my baby.

Manusia tidak berkeinginan ini juga sudah berhenti berdebat.
Kadang saya suka gemes dengan orang yang berulang kali menceramahi hal yang sebenarnya saya sudah tahu. Saya memilih jawaban default semacam, “Oh gitu..”, “Iya, yaaa..”

BERES.

Ketika diceramahi, saya merasa orang tersebut sedang menyesali pilihannya dan dia tidak ingin saya melakukan hal serupa. Atau, ketika orang bertanya “pengalaman pribadi”, ada orang yang malah berlomba-lomba menjadi korban. “Eh hidup gue lebih susah daripada lo,” atau, “Ih, gue sih ga gitu ya, Alhamdulillah.”

Honey, aint u asked me first about MY experience, MY view?

Well, kalau dipikir-pikir, usia makin bertambah membuat saya makin menahan diri. Tentu saja, gemes masih ada di hati. Tapi, selebihnya saya tidak mau membuang energi untuk beberapa jenis orang di dunia ini.

Di hidup baru ini (baca: pekerjaan), saya menyukainya karena beban yang enteng. Segelintir orang yang bebal hanya membuat kesal, tapi tidak menimbulkan keinginan untuk memperbaiki atau berbaik hati.

I simply simplify my life.

%d bloggers like this: