Skip navigation

Hari ini tepat dua minggu (lebih beberapa jam) Seif lahir.
Jadi, seperti apa rasanya menjadi ibu? Though maybe it’s too early to tell, being a mom is overwhelming.
Sekalipun pekerjaan memberi peluang untuk memberi “bocoran” seperti apa motherhood itu, tetap saja menjalankannya termasuk gampang-gampang sulit.

Well, let me tell you my story.

Pertama, saya berulang kali dehidrasi karena terus-menerus muntah. Istilah medisnya, Hyperemesis Gravidarum. Hanya tomat yang bisa saya makan. Sisanya, bahkan air putih, akan langsung keluar bak air terjun. Akhirnya pertengahan April, saya diinfus dan harus bed rest. Keadaan agak membaik setelah saya diterapi obat antimual yang ternyata dipakai oleh mereka yang menjalankan kemoterapi.

Kedua, tinggi badan yang seadanya ini membuat dokter J ragu saya bisa melahirkan normal. Meski demikian, dia tetap ingin mencobanya, asalkan berat badan bayi saya di bawah 3 kg. “Maksimal 2,8 kilo, Bu,” ujar dokter J. Alhasil, saya diet ketat dan menjalankan puasa Ramadan. Berhasil! Berat badan terkontrol. Tapi… Merayakan Lebaran selama lima hari di Ciwidey membuat berat badan yang tadinya cuma naik 1 ons, melonjak menjadi 2 kg. Huaaaaa.. rese! Akhirnya diet lagi, lebih ketat.
Ketiga, sebulan sebelum melahirkan, ada tes darah, kan?! Ternyata, saya tergolong anemia berat. Damn it! Semua gara-gara diet yang mengharuskan saya menghindari daging merah dan telur. Alhasil, saya harus diinfus dua kali sehari selama empat sesi. Infusnya biasa saja, sih, tapi dapat suster yang enggak bisa nemuin pembuluh darah yang pas itu agak nyebelin. Tusuk, cabut, tusuk, cabut. Uuuuh! Oh ya, I quit diet.

Keempat, sehari sebelum saya melahirkan, saya cek ke dokter bersama Al dan Ibu yang baru saja datang ke Jakarta (thanks Ibu, it means a lot). Kontraksi sudah teratur per 10 menit. Menurut USG, bayi saya berbobot 3,5 kg. Wow! Lalu, saya menjalani periksa dalam, sudah pembukaan 1. Sayangnya, bayi ini malah “naik” bukannya turun mencari jalan lahir. Penyebabnya, liang panggul saya terlalu sempit. Ini berarti saya harus caesar.

Buat perempuan “segala dirasa” seperti saya, ini mimpi buruk. Saya teringat pengalaman operasi geraham belakang yang menyakitkan. Lalu ini, dipasang kateter, dibius memakai jarum panjang, dan disayat-sayat hingga tujuh lapisan. Belum lagi proses pemulihan yang… ah sutralah.. hati kebat-kebit. Mau nangis, ga guna. Mau lari, apalagi. Hahaha.

PASRAH. Hanya itu yang bisa saya lakukan. Oh… dan meminta kateter dipasang setelah saya dibius.

Akhirnya tibalah tanggal 31 Oktober 2013. Sedari pukul 4 subuh, saya sudah tidak bisa tidur. Satu-satunya semangat adalah keinginan bertemu bayi di kandungan ini. Pukul 5 subuh, semua persiapan operasi dilakukan. Misalnya, dimasukkan gel ke pantat supaya saya bisa pupup dan tes alergi. Hmm, lucu, deh, tes alergi ini.. Di daerah tes, sama sekali tidak ada  alergi. Tapi, waktu saya berdiri, tiba-tiba alis saya gatal. But I was ignoring it. BIG MISTAKE! Untung saja, suster senior menyadari muka saya yang mulai bengkak dan merah-merah. Jadi, di ruang operasi, semua sudah bisa ditangani.

Caesar itu ternyata pengalaman absurd. Setelah dibius lokal, saya tiba-tiba tidak ingat apa pun. Lalu, ada  bayi kecil diangkat tinggi-tinggi yang sedang menangis. Kencang sekali. Saya hanya bisa bilang, “Kok, cepet amat keluarnya?” Lalu, saya hilang kesadaran lagi. Setelah itu, saya mencoba sekuat tenaga dan pikiran melakukan IMD. Rasanya sungguh absurd. Ada bayi kecil menempel di dada saya. “Seif…” ujar saya pelan. Hanya itu yang bisa saya ingat. Setelahnya, bayi saya diambil dan saya hilang kesadaran lagi. Btw beratnya 2,9 kg dan panjang 49 cm 🙂

Saya lalu dipindahkan ke ruang observasi. Lemas sekali rasanya. Lalu, ada suster yang bilang, “Ibu mau diberi PCA? Pereda sakit selama 24 jam? Kalau iya, nanti dokter A akan membuatkan.” PCA seharga 1 juta ini pun langsung saya ambil. Kayaknya ini antara pengaruh bius caesar dan keparnoan akan rasa sakit pasca operasi.

Ternyata di kamar perawatan, sudah banyak saudara yang menunggu. Saya, sih, masih antara sadar dan tidak sadar. Jadi, saya bisa ngobrol lalu tidur, terus bangun lagi. Si PCA ini juga keren. Tiap rasa sakit datang, saya tinggal menekannya lalu hilanglah sakitnya. Kata ipar yang dokter, PCA ini dua kali lebih hebat dibandingkan morphin. Oh my…

Well, sehebat-hebatnya PCA, begitu bius mereda… sakitnya sudah mulai terasa. Saya tidak boleh bergerak selama 24 jam. Kateter tetap dipasang hinggal 36 jam. Tapi, saya tetap harus menyusui. Dan, asal tahu saja yaaaa… mau gerak dikittttt aja itu sakitnya minta ampun. Hiks.

Lalu, ga berapa lama, saya gatal-gatal paraaah. Tadinya, saya pikir itu karena saya memaksa memakai perlak (takut darah nifas tembus ke kasur), sehingga muncul biang keringat. Ternyata, saya alergi obat. Entah obat apa, karena banyak sekali obat yang saya makan. Kemudian, alergi ini diperparah oleh telur. Punggung hingga pantat saya gosong dan bersisik, lalu ada semacam jerawat yang keluar di punggung serta agak besar.

Konsekuensinya, saya enggak diperbolehkan lagi mengonsumsi painkiller apa pun. MIMPI BURUK! Di saat yang sama, saya harus mulai berlatih miring ke kiri dan kanan, mengangkat dan menggerakan kaki, belajar duduk, lalu berdiri, dan berjalan. Tuhan, sakitnya minta ampun. Berjalan beberapa langkah aja, perut kayaknya mau copot. Hiks.

Drama ini lalu diperparah ketika saya harus mandi sendiri. “Enggak boleh basah, ya, Bu, perbannya.” Oke itu tidak masalah. Tapi, kenapa pipisnnya sakit banget!? Tangan saya sampai gemetar menahan pipis. Hiks. Ternyata, saya terkena infeksi saluran kandung kemih gara-gara kateter. Dan, ini baru ketahuan seminggu kemudian.

Drama lain menyusul. Ternyata bilirubin Seif mencapai 13 dan dia harus disinar. Ini berarti dia dipisahkan dari kamar. Huaaaa, patah hati sejadi-jadinya, deh. Rasanya enggak tega liat dia sendirian di boks, terus disinar biru sampai kulitnya kering-kering. Alhasil, saya nangis melulu. Padahal, saya harus setor ASI minimal 30 cc per dua jam. Jumlah yang amat sangat sedikit, ya! Praktiknya, sih, bikin nangis.  Saya stres meski tahu perawatan Seif itu biasa saja, ain’t nobody fault juga. Alhasil, ASI yang memang keluar sedikit di awal kelahiran bayi pun tambah seret. Payudara sudah keras sekali, tapi yang keluar hanya setetes dua tetes. Itu juga sudah dipijat sampai bikin meringis nyeri.

Sekarang, saya tinggal kontrol dua kali lagi ke dokter. Mengganti perban sekali lagi, lalu pasang KB.
By the way, mandilah selagi bisa mandi. Pasalnya, hal ini sangat saya rindukan hingga hari ini. :p

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: