Skip navigation

Beberapa tahun lalu, saya menengok teman yang baru melahirkan tanpa didampingi suaminya. G bilang, si suami memang sedang dinas ke luar negeri dan proses melahirkan ini memang di luar dugaan. G yang blakblakan bercerita proses melahirkan bayinya. Saya hanya bisa berjengit menahan ngilu sembari mengagumi betapa hebatnya G bisa melalui proses ini tanpa suaminya.

Sekarang, sedikit banyak saya mengalami hal yang sama.
Suami pergi ke luar kota selama beberapa hari atau ke luar negeri selama beberapa minggu.
Saya tahu saya kuat dan bisa melakukan semua hal sendiri. Berangkat dan pulang kerja, liputan, makan, membereskan rumah, sampai kontrol kandungan. Ya, saya bisa, kok.

Satu hal yang saya tidak bisa adalah merasa kesepian.

Sewaktu suami pergi tur ke Eropa, setiap hari saya menangis. Ada saja yang bisa membuat saya menangis. Ibu yang menelepon tiap hari juga, duh.. suka menanyakan pertanyaan yang memancing seperti, “Ga sedih ditinggal sendirian?” Ya ampun, Bu… Ya sedih, lah. Sampai akhirnya saya menangis di kantor, lalu bilang, “Jangan telepon dulu kalau pertanyaannya setiap hari seperti itu..”

Kali ini, suami pergi ke Afrika. Seperti biasa dia bilang, “Ah cuma seminggu!” Duh, rasanya pengen teriak. Coba kalau dia jadi saya. Hamil tua, pegal di sana sini, sesak napas, kepanasan, mudah capek, super sensitif, banyak pikiran, masihkah dia akan mengatakan hal yang sama?

Laki-laki memang tidak sensitif.

Sebenarnya, 4 hari ini saya sudah bisa menahan emosi. Setidaknya, saya tidak menangis. Meski ada teman di kantor yang setiap hari bercerita mengenai kehamilan istrinya. Setiap saat dia menghampiri meja saya, lalu bercerita, “Hari ini, istriku begini…”, “Hari itu, bayiku begini…”, “Pasti kamu pegel-pegel, ya?”, “Kapan checkup?”, “Sudah tes darah?”

Bukannya saya tidak senang, sih, ada yang bertanya. Eh, koreksi, saya sebenarnya tidak senang ditanya-tanya. Saya juga tidak tertarik dengan cerita kehamilan siapa pun karena selalu berujung, “Lebih parah gue laaaaah..” Hahaha.
Jadi, Ketika dia bertanya soal checkup, misalnya, saya langsung ingat, “Yah, nanti Sabtu sendirian lagi, deh..”
Atau, ketika dia bertanya apakah saya pegal-pegal, saya langsung ingat badan ini rasanya jompo sekali. Bahkan counterpain cuma sanggup meredakan pegal selama lima menit, itu pun harus dioleskan orang lain.
Lah, ini siapa yang ngolesin? Terus siapa yang mijet? Lalu, gimana kalau nanti malam kram atau sesak napas lagi?

Akhirnya tangis itu meledak di Jumat sore.
Saya pulang menggunakan Commuter Line. Di Harmoni, saya melanjutkan perjalanan ke Juanda. Berdesak-desakan dan saya mundur setelah ada bapak-bapak membawa tas punggung di depan badannya mendorong saya sekuat tenaga, padahal saya sudah bilang kalau saya hamil.

Ketika saya dibantu oleh petugas dan ibu-ibu lain untuk berdiri di depan, ternyata masih ada saja yang calon penumpang yang mendorong-dorong. Tangan saya pun terjepit pintu bis TransJak. Sakit? Ya, pasti. Saya tidak bisa menggerakkan jari-jemari yang menghitam karena tergencet pintu itu.

Cuma dua halte untuk sampai ke Juanda, jalurnya pun steril. Itu berarti perjalanan hanya membutuhkan waktu 3 menit. Selama itu, entah kenapa saya tiba-tiba sediiiiiih sekali. Lalu, tes… tes… air mata mulai meluncur satu per satu… Hidung mulai kembang kempis… Saya menunduk saja. Tapi, kok, nangisnya makin gawat. Saya terpaksa menyeka air mata dengan kemeja, yang ternyata membuat tangisan makin kuat. Argh.

Ketika turun, saya menangis sambil sesenggukan. Saya berjalan cepat, sambil menghela napas panjang, tapi semua ini tak bisa menghentikan tangis saya. Anehnya, tangga halte Juanda menuju stasiun kereta terasa tak berat dinaiki. Biasanya, saya ngos-ngosan. Untung saja, tangis mereda ketika saya sudah mulai mengantre kereta.

Jadi, sedihnya karena apa?
Bisa karena tangan yang sakit, calon penumpang yang kurang ajar, tapi yang utama.. saya kesepian.
Meskipun ada instant messaging, tetap saja bertatap muka dan mengobrol langsung itu berbeda.
Tentu saja, kalau suami ada di sebelah saya, semua akan lebih mudah.

Sayangnya, tidak semua orang mengerti.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: