Skip navigation

Monthly Archives: August 2013

Kemarin seorang teman bertanya, “Kamu pernah iri?”
Lalu, saya menjawabnya, “Ya, lah.. Iri itu manusiawi, bo.”

Kami pun bercakap-cakap mengenai penyebab “iri”. Hampir sama karena kehidupan kami tak jauh berbeda. Setelah percakapan usai, saya teringat bahwa subjek keirian kami adalah orang-orang yang santai sekali dalam menjalani hidup. Hal ini pula yang membuat saya percaya, people who never expected anything, gets everything.

Banyak mimpi (dan ambisi) memang membuat saya lebih terpacu menjalani hidup. Tapi, saya kerap lelah karena jalan yang ditempuh ternyata tak semudah memencet-mencet tombol kalkulator.

Beberapa mimpi butuh belasan tahun untuk dicapai, dan dalam kurun waktu itu pula, ada banyak duri yang mesti direlakan menusuki kulit. Istilahnya, berdarah-darah.

Mimpi yang lain terbilang mini. Tapi, kalau saya nekat mewujudkannya, mimpi besar (yang di atas tadi) bisa rusak atau tertunda. Jadi, saya menunda (kadang mengucapkan selamat tinggal) mimpi mini dan memutuskan berjibaku kembali dengan mimpi besar.

Kadang, saya tertohok dengan teman yang berprinsip, “We count blessing, not number.” Saya memang kurang bersyukur dan hidup dalam ketakutan menghadapi masa depan. Tapi, angka juga tak berbohong. Semua hal di dunia ini membutuhkan nominal tertentu, kan?

Nah, akhir-akhir ini, kelelahan mengejar angka sudah mencapai titik klimaks. Pasalnya, hati ikut-ikutan merengek sedih. Pegal masih bisa hilang dengan pijatan, tapi kalau hati yang bermasalah, rasanya langkah pun terasa berat.

Saya ingin berhenti mengejar angka dan menikmati hidup.

Hal ini, tak pernah ada di kamus saya, lho. Tapi, saya benar-benar lelah. Dan, mungkin pemicu lainnya karena saya jenuh.

Bayiku, maafkan ibumu yang kerap khawatir.

Advertisements
%d bloggers like this: