Skip navigation

Monthly Archives: May 2013

Alkisah di bulan Februari, tepat di hari ulang tahun kantor, saya membeli test pack dalam berbagai merek. Ini ritual selama enam bulan saya dan suami mencoba untuk hamil. Seperti biasa ya, bo, anaknya enggak sabaran. Pulang kantor tengah malam, langsung dicoba dan hasilnya satu garis. Oh well..

Saya pun mandi. Dan, ketika saya hendak membuang test pack itu, ternyata GARISNYA BERUBAH MENJADI DUA. Saya ketawa sendirian di kamar mandi. Suami saya panggil dan melihat test pack itu dengan muka bengong. “Apa artinya?” katanya polos.
Zzzzzz…

Sayangnya, di saat yang sama, saya juga sedang batuk parah. Saya baru tahu batuk parah itu upaya tubuh mengeluarkan racun seiring membesarnya area dada dan paru-paru sebagai persiapan 9 bulan hamil, well sort of. Besoknya, saya iseng ke rumah sakit dekat kantor. Tujuannya, cuma pengen obat batuk yang aman karena sudah lebih dari 3 hari batuk-batuk. Dokter itu saya pilih cuma karena dia yang sedang tak ada pasien.

Dia tidak percaya saya hamil meskipun test pack yang dia sodorkan berkata lain. Saya lalu di-USG transvaginal. Uh ternyata rasanya tidak nyaman! “Wah! Ini, sih, bukan hamil. Lihat, Bu, tidak ada kantong embrionya..”

Saya hanya bengong melihat layar hitam putih tanpa paham mana yang disebut kantong embrio, mana rahim, mana usus, mana kandung kemih.. Dokter itu lalu berulang kali menekan-nekan alatnya di dalam vagina saya. Believe me, it hurts like hell.

“Jadi, saya enggak hamil, Dok?” tanya saya yang mulai tak bisa menahan cucuran air mata.

Dokter itu menyuruh saya buang air kecil lalu saya di-USG transvaginal lagi. Bolak-balik toilet dan ruang periksa, lalu USG dalam lagi ini berlangsung sebanyak lebih lima kali. Disertai tekanan-tekanan yang menyakitkan yang disambut ucapan, ” Sakit, kan, Bu! Bener, nih! Bahaya, nih!” Tangis saya pun makin menjadi-jadi. Ya, saya pun menangis saat antre toilet, di depan orang banyak, di depan dokter dan suster. Sayangnya, dokter dan suster itu sama sekali tidak tergerak untuk menenangkan saya..

Dokter itu bilang saya mengalami ektopik, hamil di luar kandungan. “Baru kemarin saya mengoperasi 3 perempuan seperti ibu. Bahaya ini kalau tidak dioperasi sekarang juga!” Dia bilang, saya bisa mati karena mengalami pendarahan di dalam. Saya hanya bisa diam sembari menunggu suami di lobi.

Suami saya akhirnya datang. Dia pun panik dan saya kembali di-USG dalam. Penjelasan dokter tetap sama dan kami sama sekali tidak mengerti. Suami pun hampir mengiyakan saya masuk rumah sakit hari itu juga.

Saya tersadar saat dokter itu bilang, “Kerja di (nama perusahaan kantor saya), kan? Udah, gampang.. di-reimburse semua, kan? Operasi paling 30 menit. Nanti kalau mau hamil, gampang, kok. Tinggal caesar aja.”

Saya menjawab lirih, “Tapi, saya pengen lahiran normal, dok.”

Dokter itu bilang, “Kalau di sini kemahalan, ke rumah sakit saya yang lain aja di (blablabla), di sana setengah harga di sini.”

Duh, Gusti. Saya semakin sadar!
Kok, dokter ini keukeuh banget, ya, mau operasi saya?! Sebelum saya mengiyakan pun, dia sudah bicara di telepon entah-dengan-siapa bahwa dia harus mengosongkan jadwal karena dia mesti mengoperasi saya. Entah kenapa, saya langsung ingat ciri perempuan yang riskan ektopik, saya tidak memiliki tanda-tandanya. Saya bilang, “Dok, saya mau second opinion saja.” Dia pun menyerah sembari agak menakut-nakuti.

Sorenya, kami pergi ke rumah sakit dan dokter yang memang pilihan kami sejak dulu. “Seharusnya, kalau memang KET, tidak bisa langsung operasi, Bu. Harus observasi dulu. Kalau memang KET, masih bisa disuntik karena usianya masih dini,” jelas dokter kedua. Dia pun membandingkan hasil USG dari rumah sakit tadi dengan miliknya. “Ada, kok, Bu, kantong embrionya.. Tapi, karena masih sangat muda, dia masih ‘dalam perjalanan’ menuju rahim ibu..”

Saya pun diminta ke RSCM untuk menemui ahli fetomaternal dan di USG kembali. Alhamdulillah, hasilnya sama dengan dokter kedua. Kami hamil, tidak usah dioperasi, atau disuntik. Dokter-dokter itu pun hanya bisa menggelengkan kepala membaca resume medis dari dokter pertama. Saya dan suami legaaaaaa sekali…

We’re going to have a baby 🙂

Eits. Cerita ini belum selesai..

Kira-kira selama empat bulan kemarin saya mengalami hyperemesis gravidarum. Ala-ala Kate Middleton gitu. *huek-huek iya maaf ga pantes nyama-nyamain sama princess* Jadi, saya sama sekali tidak bisa makan dan minum secara normal karena saya muntah-muntah melulu.

Muntahnya pun dahsyat. Lewat hidung, saking banyaknya. Minum air putih sedikit, keluarnya macam muntahan South Park atau air terjun. Dan, ini terjadi hampir setiap jam. Saya sering berdiam diri di kamar mandi sambil muntah-muntah hingga rasanya seperti dicekik, bahu sakit, tenggorokan kering. Saking seringnya muntah, bukan makanan atau minuman yang keluar. Melainkan cairan berbusa putih, atau cairan kuning dan kadang hijau yang pahit sekali.

Keluar kamar mandi pun pasti mata saya sembab.
Lalu ada yang berkomentar, “Duh jangan muntah melulu, dong. Kasihan bayinya..”
Zzzz, pengen saya tonjok, deh! Hahaha. Dia pikir saya pengen muntah? Dia pikir saya enggak sayang bayi saya?
Atau, komentar, “Kecil amat perutnya..”
Ya gimana enggak kecil, berat badan aja turun 6 kilo. *oke ini curcol ibunya*

Saya akhirnya menyerah dan memutuskan meminta dirawat saja. Ooooh betapa enaknya ketika cairan Narfoz itu disuntikkan lewat infus. Lidah tiba-tiba tak pahit dan mual-mual hilang! Saya akhirnya bisa makan tanpa muntah. Hore!!!

Oh ya, bayi saya lincah banget di dalam. Dia sama sekali tidak terganggu dengan mual muntah ibunya. Dan, meskipun saya tidak terlalu menggelembung, bayi saya (hingga saat ini) tidak kekurangan berat badan atau apa pun. Mudah-mudahan sehat selalu. Amin. (Jadi, enggak usah didengerin ya, Cit, komen enggak penting dari orang-orang yang merasa punya USG di kepalanya itu :D)

Omong-omong soal USG (iya saya tahu USG sebenarnya cukup dilakukan tiga kali) tapi saya senang setiap kali melihat bayi saya di layar hitam putih itu. Tadinya, dia hanya berupa titik, sekarang organ tubuhnya mulai terlihat. Dia bahkan suka menendang-nendang. Kalau pagi hari , saya bisa mendengar detak jantungnya lewat rabaan tangan. Hingga hari ini, saya masih tak percaya ada makhluk hidup mungil di rahim ini. Tapi, it feels amazing! :’)

p.s.: Happy anniversary Saleh Husein. Sekarang kita bertiga, bukan hanya berdua. Can’t wait to see u at home. We miss u!

Advertisements
%d bloggers like this: