Skip navigation

Monthly Archives: October 2012

Saleh Husein yang saya kenal adalah orang yang memiliki banyak mimpi, beribu hobi, dan setumpuk ide. Ketika dia menyukai sesuatu, dia akan mengerjakannya dengan tekun. Tapi, berhubung lelaki ini “tidak pernah bisa diam”, dia bisa mengerjakan banyak hal dalam satu waktu. Di sisi lain, dia juga mudah sekali bosan. Kalau dirangkum, Al (begitu cara saya memanggilnya) sulit sekali fokus.

Suatu hari, saya lupa tepatnya, mungkin awal tahun 2012, dia terlihat begitu bersemangat saat menjemput saya sepulang kerja di bilangan Tugu Pancoran. “I have good news! Al mau pameran tunggal!”

Saya senang mendengarnya. Ini memang salah satu impiannya! Saya juga (seperti biasa) memberikan masukan. Okay, kritik, maksudnya. “Kamu jangan ngelukis muka kamu lagi, ya!” Juga rentetan pertanyaan seperti, “Jadi temanya mau bikin apa?” Dan kalau dia sudah menjawabnya, saya tanya lagi, “Kenapa?” Atau, “Itu bukannya terlalu biasa ya?” Atau, “Itu terlalu mengawang-awang.”

Ya. Cerewet! Dan, kalau dijabarin lebih lengkap, sih, mungkin kejam kali ya?! Ternyata, dan untungnya, bukan cuma saya yang seperti itu. Teman-temannya, termasuk Ade Darmawan yang saya hormati juga turut menyumbang saran dan berdiskusi. Kuratornya, MG pun banyak memberikan penyegaran untuk tema pamerannya. Kalau kata Ade, saat Al bercerita bahwa kami mengobrol mengenai persiapan pameran ini sampai ke tempat tidur, kami sebetulnya melakukan debat kasur. Hahaha.

Dan, siapa sangka, ternyata tema pamerannya sangat sederhana sekaligus bermakna dan dinamai, “Riwayat Saudagar” atau “History of Merchant”.

Al bercerita mengenai asal-usul dirinya, peranakan Arab – Surabaya. Mengapa dia dan keluarganya berada di sini. Mengapa buyutnya memilih Indonesia sebagai salah satu tempat hijrah. Mengapa keluarganya ada yang tinggal di Hyderabad. Mengapa marganya Bin Mahfudz. Siapa Bin Mahfudz sebenarnya.

Selama dia melakukan riset, banyak hal lain yang lebih menarik dan lebih luas serta tak disangka-sangka. Tentunya tentang migrasi orang Arab ke Indonesia. Salah satu narasumbernya, Haitam Al-Jaidi, bercerita banyak mengapa orang Arab tiba di sini. Konon karena mimpi diperintahkan pindah ke sebuah tempat di mana pohon-pohon tumbuh subur.
Mendengar hal ini, saya jadi ingat betapa terpesonanya Al dengan Jakarta yang (dulu) rimbun, ketika ia tiba di kota ini selepas tinggal bertahun-tahun di Jeddah.
Ada juga cerita mengenai keturunan Nabi Muhammad yang ternyata perempuan semua. Sekaligus apa arti sebenarnya Habib (yang dielu-elukan sebagian orang di sini) di Arab.

Bahkan foto nenek moyang Al yang merupakan satu-satunya dokumentasi dan ditemukan di India pun memiliki cerita. Di foto hitam putih ini, Jiddah Nur yang kira-kira baru berusia 5 tahun duduk bersila dan satu-satunya wajah yang tidak jelas. Kemungkinan karena Jiddah Nur tidak mau diam, haha mirip Al. Para lelaki berwajah sangar dan memiliki tatapan tajam bak elang (believe me, it’s true!) memegang pedang bersarung yang dihiasi bebatuan berharga.

Ternyata Bin Mahfudz adalah golongan pembawa senjata alias Qabail. Mereka gemar berperang dan seringkali menyelesaikan masalah dengan, “Bukan mulut atau tangan tapi pakai peluru langsung.” Mereka juga perampok yang sopan. Maksudnya, sebelum merampok mereka bilang dulu kepada calon korbannya. “Saya mau beras. Nanti malam saya datang ke rumahmu, tolong siapkan!” Kalau si korban melawan, ya sudah nyawanya yang melayang.

Ah.. Terlalu banyak yang bisa dituliskan di sini. Yang jelas, as a wife, saya bisa jadi terlalu subjektif menilai karya Al. Tapi, karyanya berbeda 180 derajat. Dan, ini I must say, menyegarkan! Kali ini, Al bukan sekadar menoreh gambar dengan arang atau cat, ia sedang bercerita dengan simpel, runut, dan bermakna. Sesekali ia menyelipkan sindiran halus mengenai obsesi orang Indonesia yang tergila-gila dengan budaya Arab.

Al, Abah dan Mama di sana pasti bangga kalau melihat karya-karyamu tadi…

Sekali lagi, selamat Al!

%d bloggers like this: