Skip navigation

Monthly Archives: March 2012

“Kamu jangan terlalu pelit sama diri sendiri, ah,” ucap G di kantin tadi siang dengan menekuk wajah.
Saya, seperti biasa ngeles ala bajaj, “Biarin! Aku, kan, royal sama orang lain. Weeeks!”
Hahaha. Jawaban yang sama sekali enggak nyambung, ya?

Di kesempatan yang lain, saya “dinasihati” oleh teman kantor yang bilang kalau saya harus memiliki anak secepat mungkin sebab, “Banyak anak banyak rezeki,” dan “Ada, kok, rezeki dari anak. Percaya, deh.” Apesnya, saya baru saja melihat deretan angka untuk dana pendidikan anak kemarin malamnya. Lantas saya bilang, “Aku ga percaya banyak anak banyak rezeki, I believe in numbers.”

Ya, saya tahu saya bukan ahli perencanaan keuangan.  Saya hanya belajar dari pengalaman pribadi atau tepatnya kesalahan selama melajang. Yaitu:

  • Tidak tahu prioritas pribadi. Bahasa kerennya sekarang, tujuan keuangan.
  • Satu-satunya pengetahuan positif yang saya tahu tentang uang adalah menabung.
  • Saya baru memulai menabung saat usia 23-an.
  • Saya “menjual nyawa” pada bank.

Jadi, mengapa teman-temanku yang masih lajang harus belajar dari kesalahan saya? Ini beberapa alasannya:

  • Kamu bisa menentukan pilihan sendiri dan memutuskan sendiri. Kalau sudah menikah, pendapat pasangan harus kita dengarkan. Kalian pun berdiskusi dan jangan kaget kalau pertengkaran bisa muncul gara-gara ini. Artinya,  setiap keputusan yang dibuat adalah keputusan berdua. Percayalah, sebesar apa pun rasa sayang dan cinta pada pasangan, pasti ada momen “menelan ludah” ketika pemikiran yang kita anggap sudah paling bagus ternyata tidak dianggap demikian oleh pasangan.
  • Kamu tidak memiliki tanggungan. Artinya kamu hanya bertanggung jawab atas diri sendiri. Bebas sebebas-bebasnya hehehe. Oh ya, menikah memang menyenangkan, begitu juga dengan (membayangkan) memiliki anak. Tapi, hidup sendiri juga tak kalah indah, kan?

Dua alasan itu bagi saya sudah cukup kuat untuk memulai investasi. Kamu bisa menentukan tujuan keuangan sendiri, itu kesempatan berharga, lho. Mau buat liburan, DP apartemen kecil, DP mobil, atau bahkan belanja sepuas hati, semua ada di tangan kamu. Enggak harus mikir, “Gue bilang dulu suami, ya!” atau, “Yah, liburan enggak bisa, nih, tahun ini, pas banget sama pindahan rumah.” Atau, “Aku harus ambil side job, soalnya kita butuh buat reksadana A. Lumayan buat anak sekolah TK nanti.”
Hihihi curcol dikit.

Beberapa teman-teman masih ragu berinvestasi padahal investasi bisa dilakukan dengan banyak cara. Ini contoh real-nya:
Ambil contoh saya, Si Penggila DVD. Sekali berbelanja DVD serial, saya bisa menghabiskan hingga Rp 200 ribu. Sebulan, saya bisa pergi lebih dari tiga kali. Hitung-hitung, selama 1 tahun, saya bisa menghabiskan sebanyak lebih dari Rp 7 juta dalam setahun. Hanya untuk DVD.
Padahal kalau saya menyisihkan Rp 200 ribu per bulan ke reksadana pasar uang dengan return (sederhananya, keuntungan) sebesar 7%, dalam empat tahun, saya sudah mengantongi Rp 11,106,258.02. Atau, saya hanya menabungnya di bank, maka saya bisa mendapatkan sekitar Rp 9 juta.
Sekarang, apa yang terlihat di depan mata? Onggokan DVD bajakan yang kepingannya sudah mulai transparan. Hehehe.

Yang jadi pertanyaan biasanya adalah berinvestasi itu caranya gimana? Nah, berhubung saya baru mampu berinvestasi di reksadana. Ini contekannya, ya:

  • Wajib menentukan tujuan keuangan biar kamu tambah semangat. Tujuan keuangan bukan pengen kaya, ya. Tapi, lebih ke buat apa, sih, uang itu nantinya. Misalnya buat liburan ke luar negeri, buat uang muka apartemen subsidi (60 jutaan biasanya) dll.
  • Beli reksadana, menurutku, lebih gampang ke bank daripada langsung ke manajer investasi (yang memiliki produk reksadana). Bank yang bisa melayani kebutuhan ini adalah Bank Mandiri dan Commonwealth. Mungkin ada kali, ya, bank lain yang bisa menjadi perantara. Kalau mau nanya kelemahan dan kekurangan dua bank ini,  pm aja, ya! Hehehe.
  • Sebelum beli, tentukan dulu jenis reksadana dan produk yang mau diambil. Terlalu panjang kalau mau dijelasin di sini soal macam-macam produknya. Hihihi. Dasarnya begini, jenis reksadana itu ada empat dan ini gampangnya dibedakan berdasarkan risiko, return, dan jangka waktu berinvestasi.
  1. Reksadana Pasar Uang: Biasanya dipakai untuk berinvestasi dalam jangka waktu pendek, kurang dari lima tahun. Return-nya kira-kira 5-7% dan risikonya paling rendah.
  2. Reksadana Pendapatan Tetap: Setahuku, ini cocok untuk investasi 5-10 tahun. Return-nya lebih besar, rata-rata 10% dan risikonya lebih besar daripada RDPU.
  3. Reksadana Campuran: Intinya, uang diinvestasikan ke saham tapi dikit. Jangka waktu investasi biasanya sampai 15 tahun, return rata-rata 15%, risiko lebih besar daripada RDPT.
  4. Reksadana Saham: Cocok untuk investasi jangka panjang sampai 25 tahun dengan return rata-rata 25%, risiko tentu saja paling tinggi, hehehe.

Next, bagaimana mencari produk yang oke dan sesuai dengan target tujuan keuangan?

  1.  Lihatlah forum mamak-mamak gaul Jakarta yang membahas reksadana. Hihihi. Yang mereka pilih, biasanya tokcer.
  2. Cek http://www.infovesta.com, di sana ada update reksadana per produk tiap hari.
  3. Dari situ, lihat produk yang sudah ada lebih dari 3-5 tahun dan memiliki dana kelolaan besar, biasanya produk yang sudah berusia segitu, terpercaya.
  4. Liat return yang didapat per bulan, per tahun, per 3 tahun. Cari yang besar tapi stabil.
  5. Liat harga per unit. Biasanya, reksadana yang sudah mapan, harga per unit-nya besar. Nah, kalau saya, karena jangka waktunya masih lama untuk mencapai tujuan keuangan, maka saya pilih yang memenuhi kriteria 1-4 tapi harga unitnya masih Rp 5000-an. Hihihi.
  6. Ingin menghitung kira-kira berapa dana yang dibutuhkan atau target dana yang diinginkan, cek di sini.
  • Kalau misalnya harga unit reksadana turun, jangan panik. Ingat tujuan keuangan, apalagi kalau jangka waktunya lama. Santai aja. Nanti juga naik lagi dan ini based on research.
  • Terakhir, tak ada hasil instan. Jadi memang harus disiplin dan sabar hehehe. Kalau saya, sih, memakai sistem autodebit jadi mau tak mau memang harus ada dan tak pernah skip berinvestasi setiap bulannya. Hiburan di kala stres karena pekerjaan adalah melihat pergerakan harga produk RD yang saya beli. Kalau hijau, waaaah senang sekali! Hihihihi.
  • Trust your instinct.

Itu saja yang bisa saya bagi untuk teman-temanku yang lajang. Belanja atau bersenang-senang sama sekali tak ada salahnya, tapi jangan lupa berinvestasi setiap bulan, ya. 😀

Advertisements

Meeting panjang di Jalan Panjang tadi siang hingga petang berlanjut dengan meeting lainnya di bilangan Selatan Jakarta. Bukan…bukan masalah pekerjaan. Ini pribadi, urusan masa depan bersama suami. Semata-mata untuk menyiapkan dana untuk anak kami dan rentetan kebutuhan lainnya.

Percayalah, kadang saya menyesal melek finansial karena saya jadi tahu persis detail kesalahan saya. Intinya, ternyata dalam hal finansial pun  saya termasuk late bloomer. Mungkin sekarang sudah tidak ada gunanya lagi menyesal telah “menjual nyawa”, ya? All I can do is cleaning the mess til 2014. Still long way to go.

Mungkin kalau saya tidak membeli buku Ligwina Hananto itu, sekarang saya sedang sibuk menyusun itinerary liburan ke sana-sini. Hahaha. Kini,  saya sadar kalau Itali tinggal mimpi dan ZoomZoom yang diidamkan harus menunggu beberapa tahun lagi.

Mengapa harus ada inflasi (ya, ini pernyataan bodoh)? Mengapa dana pendidikan anak memiliki tingkat inflasi dua kali lipat lebih besar? Mengapa harga rumah bisa melambung hingga 300% dalam waktu 2 tahun? Mengapa kami tergila-gila desain interior dari Sponge*Design dan terobsesi mengaplikasikannya ke dalam apartemen kecil kami?

Mengapa oh mengapa kami banyak maunya…Hahaha.

Selesai meeting, kami berdua terdiam. “Berat, ya?” ucapnya pada saya dan saya hanya bisa tersenyum. A bitter one.

Saya yakin, sepanjang perjalanan 30 menit menuju area rumah, kami berdua diam-diam memutar otak. Memikirkan bagaimana caranya memenuhi semua target-target tadi dan membicarakannya di rumah tanpa memicu konflik.

“Harus ada yang di-cut!” tekad saya bulat dan kini giliran dia yang tersenyum. “Harus pelit!” balasnya disambung gelak tawa. Lalu strategi singkat pun dibeberkan sembari menyantap makan malam di warteg favorit. Dan seperti biasa, saya menghitung, dia mendengarkan, saya cemas, dia menenangkan, saya makan, dia bayar *ini ga nyambung, sih*

Lalu dia pergi menggambar dan saya pun kembali berkutat dengan sisa pekerjaan. Besok, kami akan kembali berhadapan dengan realita bernama rupiah yang lebih rock n roll dibanding apa pun juga. *lebayatun*

We can do this, Al. 🙂

%d bloggers like this: