Skip navigation

Kenapa dulu saya malas sekali menikah?
Karena menikah itu berarti duit, duit, dan duit. Bukan cuma duit resepsi dan printilannya. Malah dana resepsi bisa dibilang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan tagihan masa depan. Yang paling berat bagi saya adalah biaya untuk anak (kalau dikasih numbering, pasti si angka beranak-pinak) dan biaya membeli rumah.

Kadang, saya mual kalau mendengar kedua dana ini disebut. Pusing melihat deretan angka-angka di masa depan yang bersaing dengan inflasi.

Tapi, eh, sekarang saya sudah menikah, saya tidak boleh menutup mata. Well, saya menolak menutup mata, sih.

Setiap bulan, lebih dari lima kali rekening tabungan di-autodebet bank untuk dimasukkan ke “amplop” investasi. Masa depan aman, dong? Untuk mencapai targetnya juga waaaaah.. masih jauh, Kapten! Hihihi..

Biasanya saya menghibur diri dengan melihat pergerakan NAB reksadana di Infovesta. Ternyata ijo bukan cuma bagus buat kaskusers, sekarang ijo bagi saya pun berkah. Karena ketika NAB ijo, berarti unit saya mulai naik. Sedikiiiit, sih, tapi tetap senang. 😀 atau lihat-lihat saldo tabungan berencana.

Hmmm..
Ngomongin soal rumah. Duh, gemes banget!
Rumah murah (300 juta) itu paling ada di Depok, Bintaro ujung yang nyungsep, Cibubur dll. Ada, sih, rumah harga segitu di Jakarta. Misalnya Ciledug. Banyak banget temen-temen kantor yang rumahnya di sana. Dekat sama kantor sehingga ga pusing-pusing amat dengan macet yang makin biadab pun bisa diminimalisasi. Tapi, punya rumah dekat kantor itu rasanya kok garing banget. Hampir seluruh waktu tersita buat pekerjaan, sekarang harus ‘bela-belain’ punya rumah dekat kantor?? Ga, ah!

Keinginan kami? Eh mimpi, deng… adalah memiliki rumah di Selatan Jakarta. Ketebak, lah, harganya berapa. Kurang ajar banget pokoknya. Hehehe. Mau ngejar dp-nya aja, peer. Dp terpenuhi juga, cicilannya sampai tua pun enggak akan kelar.

Akhirnya kami sekarang beralih ke apartemen. Kata D, “Mind set-nya kayak orang New York, dong. Tinggal di apartemen aja.” Wah memang apartemen, sih, yang terbayang. Errr tapi tambahin kata ‘subsidi’ ya di belakangnya yang ga ada bedanya sama rumah susun, kalau ngomongin luas lahan. Kelebihannya? Lokasi, dong dan fasilitasnya komplet.

Ternyata kami lupa sesuatu. Bahwa apartemen dan rumah sama-sama memiliki persamaan untuk memilikinya. DP, saudara-saudara. Yes, the notorious down payment. Kecil, sih, bisa cuma 70 juta, tapi kan 70 juta nolnya ada 7. Hahaha. Ada tabungan, tapi kalau dilepas, dana darurat hilang. Lama lagi, deh, ngumpulinnya. Pas terkumpul, udah kejual semua kali unitnya.

Ah gemes!
Lagian kenapa, sih, cit, ga ngontrak aja?
Soalnya saya pengen punya tempat sendiri. As simple as that. Bayar cicilan juga, ga ilang, soalnya memang buat lunasin rumah. Bukan masuk ke rekening orang lain. Beda tau rasanya punya rumah atau apartemen. Meski 4L (Lu lagi lu lagi), tapi tetep aja itu kan tempat milik saya. Bisa lepas beha dan celana dalam, cukup pake kaus dan celana di rumah. Percaya atau ga, no underwear at home itu big relieve pisan. Hahaha.

Well, perjuangan ini belum berakhir. Masih panjang dan lamaaaaa pisan. Cing sabar, Cit!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: