Skip navigation

Sekitar dua tahun lalu, saya ditugaskan mengikuti pelatihan manajemen oleh atasan. Di mana setiap pagi, trainer selalu menyapa kami dengan lantang, “Apa kabaaar?” Tentunya kami harus menjawab dengan, “Luar biasa!!!” tak kalah lantang.

Saya tidak pernah memercayai motivational training semacam ini. For me, it’s bull. Namun sesi terakhir membawa semacam pencerahan. Intinya, pria berjas dan berdasi itu bilang jika setiap orang mempunyai topeng berbeda, di pekerjaan (kantor) dan di rumah. Haha ada gunanya juga, ya, ternyata pelatihan ini.

Peran di dua tempat ini membuat saya mempunyai dua atau malah lebih banyak topeng. Di kantor, saya bisa lugas, berjarak, tapi (harus selalu) ramah.
Meski orang-orang melakukan kesalahan yang sama setiap minggu, tapi saya harus tetap tersenyum sembari mengingatkan poin kesalahan. Meski berita sumbang baru sampai di telinga, saya harus tetap profesional dan memisahkannya dari hubungan personal.

Tapi, begitu sampai di rumah, well tetap berjarak dan lebih lugas, sih. Namun setidaknya, di rumah eh di kamar, saya bisa menjadi diri sendiri. Lebih loosen up and I could express anything that I feel. Ketika saya ingin mengobrol, saya mengobrol. Kalau saya ingin sendiri, saya sendiri. Tapi, lagi-lagi, tak semua bisa mengerti. Padahal niatnya cuma memisahkan dua dunia ini.

What happen in my office, stay in my office. What happen in my home, stay in my home.

Apakah ini sebagian proses menjadi dewasa?

Yang meski hanya dilakukan sebatas di permukaan, sulit sekali. Mengatur senyum sedemikian rupa agar tampak natural di depan orang yang menjelek-jelekkan pribadi saya? Bagaimana bisa natural jika memang diatur? Palsu itu tercium, kok, meski jaraknya puluhan kilometer, karena hati pasti merasakannya. Atau, menahan rasa bergidik ketika seseorang (yang membentak saya di depan orang banyak) menyentuh tangan saya. Jika mata tak bisa “rolling eyes”, hati saya sudah pasti menjerit, “Ewwww”.

Menyembunyikan perasaan yang sebenarnya itulah yang tersulit dalam proses menjadi dewasa. Bagaimana bisa memilah rasa ke dalam logika yang terbungkus dalam norma kepatutan.

“Ga baik benci sama orang.”
“Meski dia jahat, kamu harus tetap baik atau biasa saja, lah.”
“Yah dia emang begitu orangnya, kamu harus ngertiin dia..”
“Jangan nyalahin orang. Ngaca, deh, siapa tahu kamu yang salah..”
“Mungkin dia enggak sengaja.”

Apakah ini arti sebenarnya menjadi dewasa?
Memahami seseorang lalu memakluminya dan tersenyum seakan tak ada yang terjadi. Lalu siapa yang memahami perasaan kita, toh, kita juga yang menekan perasaan untuk berpura-pura.

Mungkin dewasa itu artinya bisa memaafkan dengan sepenuh hati lalu bergerak maju tanpa mengungkitnya kembali. Belajar dari kesalahan kali, ya? Well that’s lots of job juga, sih. Atau bisa jadi dewasa adalah mengalah. Hmm jangan-jangan dewasa itu ga terlalu memikirkan segala sesuatu, ya? Haha. Dan seharusnya postingan ini tidak harus ada, ya!

Ah, whatever.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: