Skip navigation

Monthly Archives: December 2011

Dua minggu ini, manajemen waktu terasa sangat berantakan sekali. Meski sudah pagi sampai kantor, pukul 9 teng, tapi pulang tetap saja pukul 9 malam. Jadi mikir, ini gara-gara apa, ya? Kalaupun ada bonus 6 halaman atau edisi khusus, sih, wajar. Tapi, minggu ini sama sekali bebas dari dua “beban” tadi, tapi kenapa waktunya seperti tidak pernah cukup?

Saya pun akhirnya mencoba melakukan analisis metode gembel alias asal-asalan.

1. Halte Pancoran Tugu yang kian padat. Biasanya halte ini tidak pernah penuh, kalaupun ada antrian, biasanya hanya dua baris dan pintu 1 kosong melompong. Dua minggu ini kondisinya seperti berputar 180 derajat. Semua pintu penuh, antrian bisa sampai lima baris, plus orang-orang yang nyelak. Setiap ada TJ datang, hanya tiga orang yang naik. Kebayang, kan, lamanya? Akhirnya beberapa hari ini, saya mencoba halte Tebet BKPN, lumayan lebih manusiawi antriannya. Meski haltenya super sempit dan sirkulasi udaranya sama sekali enggak memadai. Eh, ternyata kemarin, antriannya sama parahnya dengan halte Pancoran Tugu. Lebih parah soalnya sempit itu tadi.

Sebenarnya bisa saja, sih, saya datang ke kantor pukul 11 siang seperti yang lainnya. Tapi, ini terasa salah. Apalagi saya pengen banget temen-temen desk saya datang dan pulang tepat waktu. Bukan hanya pulangnya yang tepat waktu, hehehe.

Jadi, beberapa hari ini pula saya terlambat. Dalam artian, baru sampai di Slipi pukul 8.30. Akhirnya naik ojek demi sampai ke kantor di mana debu, panas, macet, dan polusi melakukan kontak langsung.

2. Kebiasaan merokok sepertinya menyumbang juga gagalnya manajemen waktu. Sampai di kantor, menyalakan komputer lalu pergi ke smoking room. Sebatang, lalu dua batang, bisa sampai tiga batang. Can u imagine how many minutes I’ve wasted? How many money I’ve spent for cigs? How much healthy risk I put in my life? *mendadak serius*

Sebenarnya selama ini enggak pernah mikir si rokok bisa menyebabkan waktu terbuang percuma, sih. Awalnya gara-gara Bang T di kantor eh smooking room bilang, “Aku perhatikan, kau merokok sebungkus sehari. Setiap datang, 1 batang rokok. Berarti kau bolak-balik 20 kali ke sini.” Wakwawwww. Sekalipun kesimpulan Si Abang ini tak sepenuhnya salah, dia juga ada benarnya, sih. Bener, juga, ya! Satu editan artikel, I give myself a “reward” berupa sebatang rokok.

Damn it!! Dan, gara-gara ini saya mulai berpikir untuk berhenti merokok. Serius!
Sama halnya dengan alasan bodoh kenapa saya memulai merokok yaitu, “Pengen aja..”, alasan saya berhenti (kalau jadi, ya…) lebih kepada obsesi pengen manajemen waktu yang lebih efisien.

3. Makan siang. Sebenarnya makan siang itu cuma limabelas menit, tapi ngobrolnya lamaaaaa banget. Tapi, masa ini dikurangi juga, sih? Makan siang bareng I dan K adalah hiburan satu-satunya di kantor. Apalagi sekarang saya sudah tidak main games lagi di kantor.

4. Liputan. Meski saya sebenarnya sudah tidak wajib lagi liputan, tapi saya enggak pengen duduk terus di belakang meja. Biar otak tidak tumpul juga, biar saya bisa bikin desk saya lebih oke, biar saya “segar”. Masalahnya, sehari saja liputan, naskah-naskah mandek masuknya. Udah dibilangin naskahnya masukin sendiri, tapi formatnya acak-acakan dan membuat artistik malas mengolah. Zzzzz.

Kesimpulan dari analisis gembel tadi adalah:

– Berangkat harus lebih pagi dan stop merokok di pagi hari. Lima menit merokok berarti lima baris antrian di halte.

– Sampai kantor, tidak boleh terlalu sering merokok. Kalau bisa, seharusnya memang berhenti merokok. *saat ini masih mimpi dan wacana*

– Liputan hanya di hari-hari di mana naskah-naskah sudah masuk ke woodwing. Kecuali jika memang terpaksa dan penting sekali.

– Harus bisa lari di lantai 2 setiap pukul 4.30 sebab saat ini, selain makan siang, hanya lari yang bisa membuat saya sedikit bahagia.

– Makan siang adalah privilege. Jadi tak apa lah kalau mau lebih lama.. Masa hidup tidak ada senang-senangnya :p

– Pulang setiap pukul 6 sore is a must. Screw macet, yang penting saya pulang dan datang ke kantor tepat waktu.

 

Baru kemarin nulis soal rumah, tadi pagi dapat balasan bbm kalau dia sedang melunasi pembelian apartemen. Happy now, Cit? Seharusnya, sih, iya. Tapi, ada sesuatu yang mengganjal dan ga mungkin dibeberkan di sini.

Jadi tadi sore sembari mengatur layout artikel bersama I di kantor, saya memutuskan untuk mengubah mind set. Kukulutus won’t get me nowhere, kan? Hehehe..

Saya beruntung bulan Mei nanti bisa dibilang sudah mempunyai tempat tinggal permanen. Lokasinya di tengah kota, dekat dengan halte TJ dan stasiun kereta api, dan fasilitasnya lumayan. Mudah-mudahan, sih, bebas banjir seperti yang tertera di brosurnya.

Saya masih punya waktu enam tahun untuk mengumpulkan dp rumah. Jadi, anggaplah tinggal di apartemen nanti sebagai safety net. Enam tahun pula saya harus bekerja di tempat ini, dan delapan tahun kemudian pun saya tetep harus bekerja di tempat yang sama. Dan, dalam enam tahun itu, saya harus memiliki rumah sendiri.

Semoga umur masih panjang. Semoga masih sehat dan bisa bekerja maksimal. Amin.

Kenapa dulu saya malas sekali menikah?
Karena menikah itu berarti duit, duit, dan duit. Bukan cuma duit resepsi dan printilannya. Malah dana resepsi bisa dibilang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan tagihan masa depan. Yang paling berat bagi saya adalah biaya untuk anak (kalau dikasih numbering, pasti si angka beranak-pinak) dan biaya membeli rumah.

Kadang, saya mual kalau mendengar kedua dana ini disebut. Pusing melihat deretan angka-angka di masa depan yang bersaing dengan inflasi.

Tapi, eh, sekarang saya sudah menikah, saya tidak boleh menutup mata. Well, saya menolak menutup mata, sih.

Setiap bulan, lebih dari lima kali rekening tabungan di-autodebet bank untuk dimasukkan ke “amplop” investasi. Masa depan aman, dong? Untuk mencapai targetnya juga waaaaah.. masih jauh, Kapten! Hihihi..

Biasanya saya menghibur diri dengan melihat pergerakan NAB reksadana di Infovesta. Ternyata ijo bukan cuma bagus buat kaskusers, sekarang ijo bagi saya pun berkah. Karena ketika NAB ijo, berarti unit saya mulai naik. Sedikiiiit, sih, tapi tetap senang. 😀 atau lihat-lihat saldo tabungan berencana.

Hmmm..
Ngomongin soal rumah. Duh, gemes banget!
Rumah murah (300 juta) itu paling ada di Depok, Bintaro ujung yang nyungsep, Cibubur dll. Ada, sih, rumah harga segitu di Jakarta. Misalnya Ciledug. Banyak banget temen-temen kantor yang rumahnya di sana. Dekat sama kantor sehingga ga pusing-pusing amat dengan macet yang makin biadab pun bisa diminimalisasi. Tapi, punya rumah dekat kantor itu rasanya kok garing banget. Hampir seluruh waktu tersita buat pekerjaan, sekarang harus ‘bela-belain’ punya rumah dekat kantor?? Ga, ah!

Keinginan kami? Eh mimpi, deng… adalah memiliki rumah di Selatan Jakarta. Ketebak, lah, harganya berapa. Kurang ajar banget pokoknya. Hehehe. Mau ngejar dp-nya aja, peer. Dp terpenuhi juga, cicilannya sampai tua pun enggak akan kelar.

Akhirnya kami sekarang beralih ke apartemen. Kata D, “Mind set-nya kayak orang New York, dong. Tinggal di apartemen aja.” Wah memang apartemen, sih, yang terbayang. Errr tapi tambahin kata ‘subsidi’ ya di belakangnya yang ga ada bedanya sama rumah susun, kalau ngomongin luas lahan. Kelebihannya? Lokasi, dong dan fasilitasnya komplet.

Ternyata kami lupa sesuatu. Bahwa apartemen dan rumah sama-sama memiliki persamaan untuk memilikinya. DP, saudara-saudara. Yes, the notorious down payment. Kecil, sih, bisa cuma 70 juta, tapi kan 70 juta nolnya ada 7. Hahaha. Ada tabungan, tapi kalau dilepas, dana darurat hilang. Lama lagi, deh, ngumpulinnya. Pas terkumpul, udah kejual semua kali unitnya.

Ah gemes!
Lagian kenapa, sih, cit, ga ngontrak aja?
Soalnya saya pengen punya tempat sendiri. As simple as that. Bayar cicilan juga, ga ilang, soalnya memang buat lunasin rumah. Bukan masuk ke rekening orang lain. Beda tau rasanya punya rumah atau apartemen. Meski 4L (Lu lagi lu lagi), tapi tetep aja itu kan tempat milik saya. Bisa lepas beha dan celana dalam, cukup pake kaus dan celana di rumah. Percaya atau ga, no underwear at home itu big relieve pisan. Hahaha.

Well, perjuangan ini belum berakhir. Masih panjang dan lamaaaaa pisan. Cing sabar, Cit!

Sekitar dua tahun lalu, saya ditugaskan mengikuti pelatihan manajemen oleh atasan. Di mana setiap pagi, trainer selalu menyapa kami dengan lantang, “Apa kabaaar?” Tentunya kami harus menjawab dengan, “Luar biasa!!!” tak kalah lantang.

Saya tidak pernah memercayai motivational training semacam ini. For me, it’s bull. Namun sesi terakhir membawa semacam pencerahan. Intinya, pria berjas dan berdasi itu bilang jika setiap orang mempunyai topeng berbeda, di pekerjaan (kantor) dan di rumah. Haha ada gunanya juga, ya, ternyata pelatihan ini.

Peran di dua tempat ini membuat saya mempunyai dua atau malah lebih banyak topeng. Di kantor, saya bisa lugas, berjarak, tapi (harus selalu) ramah.
Meski orang-orang melakukan kesalahan yang sama setiap minggu, tapi saya harus tetap tersenyum sembari mengingatkan poin kesalahan. Meski berita sumbang baru sampai di telinga, saya harus tetap profesional dan memisahkannya dari hubungan personal.

Tapi, begitu sampai di rumah, well tetap berjarak dan lebih lugas, sih. Namun setidaknya, di rumah eh di kamar, saya bisa menjadi diri sendiri. Lebih loosen up and I could express anything that I feel. Ketika saya ingin mengobrol, saya mengobrol. Kalau saya ingin sendiri, saya sendiri. Tapi, lagi-lagi, tak semua bisa mengerti. Padahal niatnya cuma memisahkan dua dunia ini.

What happen in my office, stay in my office. What happen in my home, stay in my home.

Apakah ini sebagian proses menjadi dewasa?

Yang meski hanya dilakukan sebatas di permukaan, sulit sekali. Mengatur senyum sedemikian rupa agar tampak natural di depan orang yang menjelek-jelekkan pribadi saya? Bagaimana bisa natural jika memang diatur? Palsu itu tercium, kok, meski jaraknya puluhan kilometer, karena hati pasti merasakannya. Atau, menahan rasa bergidik ketika seseorang (yang membentak saya di depan orang banyak) menyentuh tangan saya. Jika mata tak bisa “rolling eyes”, hati saya sudah pasti menjerit, “Ewwww”.

Menyembunyikan perasaan yang sebenarnya itulah yang tersulit dalam proses menjadi dewasa. Bagaimana bisa memilah rasa ke dalam logika yang terbungkus dalam norma kepatutan.

“Ga baik benci sama orang.”
“Meski dia jahat, kamu harus tetap baik atau biasa saja, lah.”
“Yah dia emang begitu orangnya, kamu harus ngertiin dia..”
“Jangan nyalahin orang. Ngaca, deh, siapa tahu kamu yang salah..”
“Mungkin dia enggak sengaja.”

Apakah ini arti sebenarnya menjadi dewasa?
Memahami seseorang lalu memakluminya dan tersenyum seakan tak ada yang terjadi. Lalu siapa yang memahami perasaan kita, toh, kita juga yang menekan perasaan untuk berpura-pura.

Mungkin dewasa itu artinya bisa memaafkan dengan sepenuh hati lalu bergerak maju tanpa mengungkitnya kembali. Belajar dari kesalahan kali, ya? Well that’s lots of job juga, sih. Atau bisa jadi dewasa adalah mengalah. Hmm jangan-jangan dewasa itu ga terlalu memikirkan segala sesuatu, ya? Haha. Dan seharusnya postingan ini tidak harus ada, ya!

Ah, whatever.

%d bloggers like this: