Skip navigation

 

Hampir dua tahun berlalu sejak saya berhak mengikuti program dana pensiun di perusahaan.
Di hari sosialisasi, dengan cerdasnya saya tertidur pulas di kostan dan sampai kantor agak siang, lalu bekerja seperti biasa. Sebuah kertas, entah kenapa memaksa saya untuk meliriknya tapi saya malah asyik mengedit (atau ehm main game ya?!), dibuka juga akhirnya. And then, saya baru ingat, harusnya saya datang ke sosialisasi tadi. Saya buru-buru menelpon HRD, meminta maaf, dan meminta formulir dana pensiun untuk dikirim ke meja saya. Tak butuh 10 menit, TB di kantor sudah menyerahkannya ke tangan saya. Syarat yang dibutuhkan cenderung mudah. Mengisinya juga. Tapi, hati ini ragu.

Pekerjaan ini selalu membuat saya terombang-ambing.
I don’t have to think twice to answer, “Yes!” when people asked me do I love my job. I do, I really do. Bagi saya, pergi ke kantor itu menyenangkan. Because I’m doing something that I love and got paid. Selain itu, saya memang merasa “tugas” saya belum selesai di sana. Tapi, seperti kebanyakan orang di dunia ini dan romantika pekerjaannya, tak ada yang bulat sempurna. Selalu ada garis yang melenceng dan mengganggu. Kadang, rasanya pengen banget menghapus si garis-garis pengganggu itu, tapi penghapusnya tidak berada di tangan saya. Hihihi.

Di saat yang sama, teman-teman sudah berpindah pekerjaan. Beberapa ada yang memutuskan untuk membuka usaha sendiri. Malah ada juga yang memutuskan untuk bersekolah lagi. Ini semua membuat saya (sering) berpikir, “Kok, hidup saya gini-gini aja?” Saya sebenarnya tidak berdiam diri. Sempat mencari celah yang lain, hampir masuk ke dunia baru, namun pada akhirnya saya memilih untuk stay in this place for whole lots of reasons that actually made me sad and happy at the same time. Apa, sih, hahaha…

Pada akhirnya, lembaran formulir dana pensiun tersebut terlupakan begitu saja.
Pasalnya bagi saya, mengikuti dana pensiun di perusahaan, berarti saya sudah siap sepenuh hati untuk menjalani hari-hari di tempat ini. Berbenturan dengan garis yang melenceng tadi selama (mungkin) 15 atau 20 tahun ke depan dengan segala dinamikanya. Siapkah saya? Makanya tidak heran ketika I bilang, “Are you sure?” waktu saya bbm dia untuk memberitahu kalau saya sudah mengisi dengan lengkap formulir-formulir itu (ternyata agak rumit ngisinya bow). Setengah memaksa diri, saya tulis, “Ya. Aku mau di sini aja.”

Ah, pathetic, ya?
Sementara yang lain mengejar mimpi hingga ke negara lain, saya memutuskan untuk tunduk pada “jalan aman seorang karyawan”. Mimpi masih banyak. Eh, ga banyak, sih. Lebih banyak excuses-nya. Enggak punya waktu, lah. Enggak ada inspirasi, lah. Sometimes, I think I need to fire up my life but at the same time, I have so many boundaries to protect myself.

A friend called T said to me, “Kalau lo merasa hidup lo membosankan, lo buka diri lo. Lo ga tertarik, tapi lo harus paksa diri lo buat liat dulu. Apa, sih, itu? Ga suka, ya udah cabut.” Menohok.

“Mana passion, lo?” mungkin itu cecaran yang pas jika seorang career coach membaca blog ini.
And u know what, I have no idea where the hell is my passion. Tenggelam kali. I have no idea. And does this makes me wanna cry? Uh yes. Many times. But then again, crying won’t help. And this post is a cry for help, for sure. And no one can help me beside me.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: