Skip navigation

Monthly Archives: May 2011

Jumat malam, tinggal satu hari menjelang hari H. Semua orang di rumah sibuk sekali, banyak wajah-wajah familiar tapi saya lupa namanya. Saya diam di kamar, seringnya tidur dan bermimpi macam-macam. Sore-sore mengecat kuku, lalu diam-diam pergi merokok saat pengajian selesai.

That’s my h-1 day.

Jika orang-orang bertanya sampai membuat kesimpulan sendiri kalau saya sedang deg-degan, padahal saya biasa saja. Yang mendominasi hari-hari malah si pekerjaan. Sampai hari Rabu malam, kepala rasanya mau pecah, tapi bisa diselesaikan, walau lupa mengirimkan coverline. Bukan deg-degan, melainkan hectic luar biasa.

See, instead talking about my wedding, I’m talking about work. Haha. Yap, that’s more interesting. Hehe, enggak, deng, bercanda..

Mungkin, nih..
Mungkin karena pernikahan ini banyak dibantu oleh keluarga dan teman-teman, so I have nothing to worry about. Apalagi Al cenderung santai menghadapi segala sesuatu. Saya juga ikut terbawa dan, saya sangat bersyukur untuk ini.

Sampai jumpa di hari H, pacar..
Juga teman-teman dan keluarga..
All is well.

Advertisements

Sebelum acara ini dimulai, sudah banyak isu negatif yang saya dengar. Bocoran-bocoran dari teman yang bekerja di televisi, temannya teman desk saya yang ikut audisi, sampai temannya istri teman saya.

Katanya, sih, sama seperti reality show di negeri ini, acara franchise Masterchef Indonesia juga dipoles dengan berbagai manipulasi agar acaranya lebih ‘menarik’.

Dua minggu, empat episode berlalu, hanya sempat menonton via timeline di Twitter. Isinya ya caci maki, sama sekali tidak ada apreasiasi. Duh, tambah penasaran ingin menonton acara ini, apalagi melihat Chef Juna yang katanya lebay dan kejam.

Hehe, kalau dipikir-pikir, yang dibenci malah bikin penasaran, ya? Untuk ini, saya acungkan satu jempol pada orang-orang di belakang layar.

Tuh, barusan Mas C lewat memberi update-an. Katanya teman-teman di timeline-nya bilang, “Ini acara ospek atau masak?” Hahaha.. Ya, saya sedang menontonnya sekarang, minggu lalu juga. Kenapa? Saya suka acara ini. Hehe..

Ya, kan, yang benci aja nonton. Yang ngabisin jatah tweet-nya buat maki-maki acara ini, juga pasti nonton. Hihi FYI, televisi tidak peduli dengan benci atau cinta, yang penting share-nya besar 🙂

Oh iya, ketika saya melihat Masterchef Indonesia di mana pesertanya bisa menangis, terkaget-kaget, panik, sampai bahagia, I don’t think that was exaggerating. Karena saya pun merasakan hal yang sama.

Sebagai orang yang super amatir dalam memasak, ehm yes I cook, tapi hanya untuk senang-senang. Kadang spesial untuk pacar, itu pun setelah saya yakin saya menguasai resep. Pernah juga masak untuk serumah bersama S dan Ac… And every cooking experience is fun yet thrilling!

Contohnya, pernah ngebayangin masak ati ampela? Ternyata enggak bisa langsung digoreng, harus diungkep dengan bumbu sampai tiris. Setelah itu goreng di minyak panas, dan dar der dor, kamu akan disambut banyak letupan minyak panas. Hasilnya? Saya nangis. Boro-boro enak, panik dan kulit perih membuat saya kapok memasaknya. Effort besar yang diakhiri kegagalan.

Pernah juga saya memasak cah kangkung. I love kangkung 😀 so I gave myself lots of chances to make what-people-said-the-easiest-food. Guess what? Saya gagal berkali-kali. Sebel, kesel, merasa bodoh (errr mungkin aja, sih). Haha..

Entahlah mungkin saya berhasil dikibuli oleh produser acara ini. Tapi, drama sinetron di dapur megah ini memang benar-benar pernah terjadi di keseharian saya. Errr, saya drama queen kali? Haha. Well, kecuali dinilai masakannya oleh chef-chef itu. Hihihi untung juri saya cuma satu, Al. Yang selalu bilang masakan saya enak meskipun itu-itu aja. Promise, I’m gonna learn how to cook arabian food for you, Al.

Eh iya, soal juri..
Okey, Juna memang terlalu lebay. I admitted it. Tapi, itu hanya settingan. Kalau dianya kalem-kalem doang, ya gak rame, dong. Hehehe lucunya, orang-orang yang ‘marah-marah’ pada Juna, secara gak langsung mempromosikan Juna dan acara ini. Ya ya ya, bad publications, good publications, are PUBLICATIONS.

Hmm, kalau Rinrin, dia baik. Kenapa? Soalnya dia bersedia memasak untuk media saya. Hehe cemen, ya, alasannya?! Biarin, u have no idea betapa kesalnya saya dengan chef-chef baru yang sombongnya minta ampun. Dan, Rinrin memasak menggunakan bahan-bahan asli Indonesia, and I respect her for that.

What about Vindex?
Well saat membuat edsus Kuliner, saya ditugasi mencari tiga chef ganteng. “Harus straight!” jelas SuperBoss. Di saat saya kebingungan, saya membuka katalog sebuah festival makanan besar di Jakarta, and there he was. Tersenyum penuh kharisma, and I tell my boss, “I think he fits all the criteria for this article.” Boss said, “But he’s old.” Me, “But he’s charming..” Hehehe..

Akhirnya, jadilah Chef Vindex masuk ke artikel tiga chef itu. Saya tidak menyesali keputusan itu karena menurut teman yang mewawancarai, Vindex is a humble man. Hihihi.. 🙂

Ah.. Panjang, ya, cerita ngalor-ngidul soal reality show ini. Well, whatever my timeline said, I like this show dan akan menontonnya sampai selesai 🙂

Saya punya teman di SMA dulu, namanya V. Perempuan, hitam manis, dan suaranya merdu sekali. Dia salah satu anak didik Elfa Secoria, dan sering pergi ke sana-sini untuk lomba menyanyi.
Dari ceritanya dan gayanya, saya tahu dia orang berada. Cerita hidupnya, sekilas seperti sinetron. Mamanya melarangnya berpacaran dengan pacarnya saat itu, anak kuliah. Dia seringkali datang ke sekolah dengan muka misuh-misuh, atau curhat ke teman-teman mengenai mamanya yang ‘cerewet’.

Saya hanya mendengarkan, habis bingung mau bilang apa. Dulu, boro-boro pacaran, saya tahunya kalau pegangan tangan dengan laki-laki yang kita suka bisa bikin tekdung alias hamil. Kalaupun pacaran, melihat muka si pacar juga saya malu.

Suatu hari, saya yang sedang naik angkot melihat V dan pacarnya naik motor. Mereka berada tepat di belakang jendela belakang angkot. Di Jalan Sunda kalau tidak salah. Saya bengong melihat mereka, tapi mereka sama sekali tidak ngeh dengan mata saya membelalak.
Mereka tampak bahagia. V memeluk pacarnya di atas motor yang dikendarai. Kepalanya condong ke kanan, sambil mengobrol dengan pacarnya. V tidak memakai helm, jadi rambutnya yang hitam, panjang, dan lebat, berkibar-kibar. Hehehe pasti pas turun dari motor, rambutnya kusut.

Oh ya, kenapa saya kaget melihat lovebirds itu?
Karena, saya kaget melihat V yang bolos sekolah demi pacarnya. Ya, hari itu V tidak masuk kelas. Saya takut mamanya tahu dan memarahi V. Huehehhe aneh, ya? Waktu itu saya mikirnya, “Wah segitunya banget sama pacarnya, sampai bela-belain mabal.” Tapi, sampai hari ini, yang saya selalu terekam dalam otak adalah wajah bahagia dua orang itu.

Sekarang, entah ada di mana V ini. Pernah, sih, saya melihat dia menyanyi di televisi. Pernah juga bertemu, mungkin dia juga lupa dengan saya. Apakah V masih berpacaran (atau sudah menikah) dengan laki-laki itu, saya juga tidak tahu. Yang jelas V memberikan pelajaran berarti untuk saya, yaitu mabal untuk pacar.. Hahaha enggak, deng.. Saya tidak pernah lupa binar wajah bahagianya. Tidak terbeli, tidak tergantikan. Semoga kamu sekarang bahagia, ya, V, dan tidak diomeli mamamu lagi karena laki-laki pilihanmu. 😀

Sending invitation via postal service or delivery service such as JNE has become my problem nowadays. I had bad experience with JNE couple years ago while I still in Bandung, yet my courier (because apparently I had no time to send it by myself) send my package for my parents and my sister in Surabaya with JNE.

There is, no.. There are lotsa problem with this JNE thing. First, I used YES (yakin esok sampai) type, but they send my package so late. And, I’m 100% sure, if I’m not calling their call centre, they won’t even delivered my package. 😦

Even my sister hasn’t received the package, yes until today which is two weeks late, because according to them, my sister’s address is unknown. While my parents is sending her package like zillion time with postal service and has no problem at all.

E, who’s working at JNE (he’s my ex boss), promise to help my package delivered back to me. So.. You know, I’m not trusting this JNE thing. What YES?! YES my ASS. Sorry E, but I’m truly disappointed.

So because of my awful experience with JNE and my boyfriend sending invitation via postal service that ended successful.. I thought, okay let’s give it a go. But you know what, service went bad also at this place, Tanah Abang to be exact.

The officer ain’t friendly or professional. I got heated argument with her because of her attitude. She’s flirting with another stupid pricky customer for 20 minutes (maybe I’m exaggerating), and I was pissed off. Hell sure I went bazooka at her and made a scene.

I was so angry that I don’t remember word by word what I was saying, furiously, at her. Guess what? I checked via postal service web, and I got 3 invitations went AWOL. “Data tidak ditemukan” while I got the nomor resi or proof of my package’s data and intend to call the complaint centre. I clicked, over and over again, but the link went nada. Great website, huh?!

I could easily print out invitation labels for my friends, but that’s not the problem. Astrud Gilberto song, “Who Can I Turn To?” is my bottom line for the problem. Private service ain’t working well, while postal service is suck. I know I can easily emailing my friend, but sending real hard copy invitation is more intimate, and I have a thing for intimacy. Dudududu.. cheesy side of me. Moreover, I like the invitation 😀

Maybe the best way is just sending it personally. But who has the time?

You know what?
Everything, every single thing even the smallest one is annoying for me lately. And I’m so afraid of people translating my snobby attitude into bridezilla syndrome. But then, why should I care about friend who cares for me only in the surface and only able to be annoyingly kepo 😀

I can do this.
In the end of d-day, I’m gonna smile happily and starting my new chapter with him. As my future sister in law said, “Ga ada lagi temen, yang ada ya kamu dan Acit.”

Update:
Some invitations still AWOL, but two of em is delivered today.
And, JNE promise to send package to my sister’s office.

%d bloggers like this: