Skip navigation

Mungkin, dari awal kami sudah memulainya dengan jalan yang tidak menyenangkan. Dia dipaksa dan saya tidak mempunyai pilihan. Saya datang tiba-tiba dan dia semerta-merta tergagap-gagap.

Ketika saya tiba, saya tidak tahu apa yang dia rasakan.
Ketika saya mulai berjalan, memori belum bisa merekam sempurna.
Ketika saya menginjak dewasa, yang saya tahu cuma ketidakpuasannya.

Tidak pernah ada kontak fisik berupa afeksi yang berarti. Sehingga kami pun menjauh di luar kendali. Yang saya ingat sampai sekarang adalah begitu banyak yang akan saya hindari untuk dilakukan di kemudian hari. Saya tidak ingin siklus yang sama terulang, itu saja.

Lalu datanglah orang baru. Yang datang untuk merajut cerita baru bersama perempuan itu dan saya. Pohon keluarga sebentar lagi menautkan akarnya dengan pohon keluarga Si Orang Baru. Begitu banyak ranting yang harus disatukan, begitu banyak dedaunan berbaur warna.

Saya lelah menjadi penengah yang tiada guna.
Saya bosan dianggap tidak tahu balas jasa.
Saya marah selalu terjepit di antara dua kubu, egonya dan ego saya.

Kamu tahu?
Saya hanya ingin semua ini selesai.
Bahkan kadang, saya menyesal memulainya.

Advertisements

One Comment

  1. C’est la vie


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: