Skip navigation

“Kenapa semua terasa melambat, ya?”

Kalimat ini yang selalu saya pikirkan di sela-sela bekerja dari awal tahun. Padahal, saya adalah orang yang selalu terburu-buru. Padahal kemampuan multitasking pun tak seberapa. Sekarang, berbeda 180 derajat. Mungkin, karena sudah tidak ada gairah dan jenuh dengan rutinitas.. Atau secara tidak sadar saya mengejewantahkan peribahasa, “Biar lambat asal selamat.” Hehehe.. Malah bisa jadi saya kadung nyaman di tempat sekarang. Oh tidak! Eh tapi, saya berusaha mencari peruntungan lain, sih..

Yang jelas, inti dari paragraf di atas adalah, saya harus fokus kembali. Ingat-ingat apa passion saya yaitu menulis. Jangan sampai saya lupa. Oh Tuhan, sebenarnya saya lupa. Bukan.. Bukan menulis artikel, itu sih makanan sehari-hari. Hehehe. Ini menulis yang lain, yang lebih pribadi dan memakai hati. Lebay, deh..

Dari fokus, saya jadi ingat kejadian hari ini di mana saya (untuk pertama kali) mengevaluasi rekan kerja 1 desk. Sebenarnya, saya tidak nyaman melakukan ini, saya orangnya terlalu mudah melupakan kesalahan orang (yang harusnya dicatat). Jadi saya berbicara seadanya dan seadilnya. Kalau menurut saya, sih, lebih banyak kelebihan daripada membahas kekurangan. Meski pernah melakukan kesalahan, di sela-sela kritik, saya menyelipkan motivasi juga solusi. Toh, semua manusia pernah salah, untuk apa dibahas terus-menerus. Mendingan cari solusi 😀

Namun dari gurat wajah sebagian orang yang mendapat evaluasi, mereka terlihat kecewa. Ada yang diam-diam curhat pada teman, ada yang mengomel tanpa takut, ada juga yang menyalahkan orang lain.

Saya seperti diingatkan, bahwa:
1. Tidak mungkin membuat semua orang puas.
2. Orang lebih fokus pada kritik (kelemahan) yang diolah menjadi ‘hinaan’ di otaknya.

Padahal kalau mau jujur, siapa yang bisa menilai kita? Orang lain tentunya. 3 tahun bekerja di tempat ini, saya digembleng dengan rupa-rupa kritik. Awalnya dicerna mentah-mentah, sampai akhirnya seperti sekarang, dijadikan masukan berharga. Meski kadang kalau orangnya memang menyebalkan dan mengkritik di waktu yang salah, ya sebal juga sih.. Hehehe..

Besok, giliran saya yang dievaluasi oleh orang yang kebetulan sering berlawanan dengan saya. I wonder how will I react and response to her opinion. Apakah saya akan kesal? Cuek? Dendam? Ngedumel tiada henti? Entahlah.. Yang jelas, sebisa mungkin saya akan fokus pada hal yang positif saja. Hidup sudah terlalu banyak drama, untuk apa menambahkan bumbu lain yang bikin mumet. Ya, kan?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: