Skip navigation

Monthly Archives: February 2011

Mungkin, dari awal kami sudah memulainya dengan jalan yang tidak menyenangkan. Dia dipaksa dan saya tidak mempunyai pilihan. Saya datang tiba-tiba dan dia semerta-merta tergagap-gagap.

Ketika saya tiba, saya tidak tahu apa yang dia rasakan.
Ketika saya mulai berjalan, memori belum bisa merekam sempurna.
Ketika saya menginjak dewasa, yang saya tahu cuma ketidakpuasannya.

Tidak pernah ada kontak fisik berupa afeksi yang berarti. Sehingga kami pun menjauh di luar kendali. Yang saya ingat sampai sekarang adalah begitu banyak yang akan saya hindari untuk dilakukan di kemudian hari. Saya tidak ingin siklus yang sama terulang, itu saja.

Lalu datanglah orang baru. Yang datang untuk merajut cerita baru bersama perempuan itu dan saya. Pohon keluarga sebentar lagi menautkan akarnya dengan pohon keluarga Si Orang Baru. Begitu banyak ranting yang harus disatukan, begitu banyak dedaunan berbaur warna.

Saya lelah menjadi penengah yang tiada guna.
Saya bosan dianggap tidak tahu balas jasa.
Saya marah selalu terjepit di antara dua kubu, egonya dan ego saya.

Kamu tahu?
Saya hanya ingin semua ini selesai.
Bahkan kadang, saya menyesal memulainya.

Advertisements

Beberapa waktu lalu, saya pernah bilang “a snob people who doesn’t realize that they are snob is the most irritating person in the world” di akun Twitter (yang sekarang sudah almarhum).

Orang yang sombong itu menyebalkan, nah di kasus ini, Sang Terdakwa tidak menyadari kalau dia sombong. Jadi kadar menyebalkannya pun berlipat ganda. Orang ini tidak menyadari kalau setiap polah dan omongannya berkadar sombong lumayan kental. Yang mendengar dan melihat, di luar faktor kalau dia memang sensitif, pasti mual-mual dan tak tahan untuk rolling their eyes.

Dan, kadang saya merasa, merasa stuck itu bukan hanya dengan pacar, sehingga sulit berpaling ke hati yang lain.. Berhadapan dengan snob people macam ini juga rasanya sama-sama stuck.

Lalu muncullah sifat permisif yang melenceng dari kaidahnya atau tepatnya menerima si snob people apa adanya (ya, kan, mirip dengan pacaran dengan orang yang sangat menyebalkan, tapi apa daya, cinta juga iya)..

Sehingga hasil akhirnya ketika si snob people memuntahkan kata dan perilakunya dengan cuek, kita hanya bisa mengelus dada, mengirim pm di bbm pada teman senasib dan bilang, “Duh, gemes deh tiap kali ngobrol sama si x.” Yang dibalas dengan, “Kenapa lagi?”

Jawaban selanjutnya adalah…
“Naaah, he’s just being himself..”

Yaaa… Bener, kan? That person just being himself, he didn’t even realized how snob he is. Why should I put the blame on him. Well, yes he’s annoying, tapi mau gimana lagi, memang begitu orangnya. Haha, jadi pengen jambak-jambak rambut orang.

Harapan saya cuma satu, semoga saya tidak menjadi orang seperti itu. Amin. Hehehe..

“Kenapa semua terasa melambat, ya?”

Kalimat ini yang selalu saya pikirkan di sela-sela bekerja dari awal tahun. Padahal, saya adalah orang yang selalu terburu-buru. Padahal kemampuan multitasking pun tak seberapa. Sekarang, berbeda 180 derajat. Mungkin, karena sudah tidak ada gairah dan jenuh dengan rutinitas.. Atau secara tidak sadar saya mengejewantahkan peribahasa, “Biar lambat asal selamat.” Hehehe.. Malah bisa jadi saya kadung nyaman di tempat sekarang. Oh tidak! Eh tapi, saya berusaha mencari peruntungan lain, sih..

Yang jelas, inti dari paragraf di atas adalah, saya harus fokus kembali. Ingat-ingat apa passion saya yaitu menulis. Jangan sampai saya lupa. Oh Tuhan, sebenarnya saya lupa. Bukan.. Bukan menulis artikel, itu sih makanan sehari-hari. Hehehe. Ini menulis yang lain, yang lebih pribadi dan memakai hati. Lebay, deh..

Dari fokus, saya jadi ingat kejadian hari ini di mana saya (untuk pertama kali) mengevaluasi rekan kerja 1 desk. Sebenarnya, saya tidak nyaman melakukan ini, saya orangnya terlalu mudah melupakan kesalahan orang (yang harusnya dicatat). Jadi saya berbicara seadanya dan seadilnya. Kalau menurut saya, sih, lebih banyak kelebihan daripada membahas kekurangan. Meski pernah melakukan kesalahan, di sela-sela kritik, saya menyelipkan motivasi juga solusi. Toh, semua manusia pernah salah, untuk apa dibahas terus-menerus. Mendingan cari solusi 😀

Namun dari gurat wajah sebagian orang yang mendapat evaluasi, mereka terlihat kecewa. Ada yang diam-diam curhat pada teman, ada yang mengomel tanpa takut, ada juga yang menyalahkan orang lain.

Saya seperti diingatkan, bahwa:
1. Tidak mungkin membuat semua orang puas.
2. Orang lebih fokus pada kritik (kelemahan) yang diolah menjadi ‘hinaan’ di otaknya.

Padahal kalau mau jujur, siapa yang bisa menilai kita? Orang lain tentunya. 3 tahun bekerja di tempat ini, saya digembleng dengan rupa-rupa kritik. Awalnya dicerna mentah-mentah, sampai akhirnya seperti sekarang, dijadikan masukan berharga. Meski kadang kalau orangnya memang menyebalkan dan mengkritik di waktu yang salah, ya sebal juga sih.. Hehehe..

Besok, giliran saya yang dievaluasi oleh orang yang kebetulan sering berlawanan dengan saya. I wonder how will I react and response to her opinion. Apakah saya akan kesal? Cuek? Dendam? Ngedumel tiada henti? Entahlah.. Yang jelas, sebisa mungkin saya akan fokus pada hal yang positif saja. Hidup sudah terlalu banyak drama, untuk apa menambahkan bumbu lain yang bikin mumet. Ya, kan?

Hari ini, rasanya campur aduk.

Antara mengikuti pelatihan yang mana saya tak seharusnya mengikuti namun entah kenapa saya yang dipilih dan akhirnya menjadikan saya seperti orang terbodoh di ruangan itu. Semua orang bilang ini kesempatan bagus untuk saya dan karier di kantor ini. Jujur, saya tidak pernah menginginkan menjadi siapapun di ruangan besar yang kaku itu. Ya, mereka adalah petinggi-petinggi perusahaan ini. Sudah tidak tersisa lagi ambisi di kantor ini. Bukan karena saya merasa mapan, ada alasan lain, tapi tidak etis mengungkapkannya di sini. Hehehe… Well, that’s the low part of this week.

The good part, the peak of this week adalah Al datang ke rumah.
Untuk pertama kalinya, selama lima tahun berpacaran, akhirnya dia datang.
Ini sesuai dengan keinginan saya, kalau datang ya tujuannya untuk melamar.
Dan datanglah pria Aries itu dengan polo shirt merah muda dan celana katun warna krem.
Saya duduk di sebelahnya, sementara orangtua saya duduk di depan kami.

Sedari awal, saya sudah mewanti-wanti. Keluarga saya adalah keluarga yang kaku namun sangat straight to the point. Dan, benar saya. Si Pacar dibuat grogi oleh kekakuan sekaligus kelugasan Ibu saya. Ya, Ibu yang lebih banyak berbicara (seperti yang sudah saya duga) dan pacar dibuat mati kutu dengan segala “sarannya”. Hahaha jujur, saya juga kesal, tapi mau bagaimana lagi.

Ya, langkah-langkah yang dituju masih panjang dan berbelit-belit. Inginnya sih langsung hajar, tapi.. mana mungkin.

Well, wish me luck!

%d bloggers like this: