Skip navigation

Margo Guryan bilang, “Take a picture so we can remember. The way it feels to love each other. Just in case of cloudy days to come.”

Tak heran jika banyak orang gemar sekali mengabadikan momen dalam foto. Jepret sana, jepret sini. Dan, tanpa perlu dikomando, ketika kamera dalam posisi mengambil gambar, orang-orang sontak menatapnya lalu bergaya dengan pose andalannya.

Yes, We Had The Moment

Ketika bahagia, mungkin melihat foto-foto itu rasanya biasa saja. Tapi, bandingkan saat sedang sedih atau rindu. Foto-foto yang sekalipun berat badan bertambah lima kilogram dalam lembaran itu bisa memberikan senyum instan sembari berkata dalam hati, “Hei! We looked so cute together,” atau tiba-tiba terucap syukur, “Untung gua putusin dia!”

Saya punya satu foto bersama tiga orang dekat. Kami ambil di medio Juli 2009 di ruang kantor sebuah galeri. Bermodal laptop dan software polaroid, kami yang sedang dalam mode malas mandi hanya bersampir kaus jelek dan rambut acak-acakan berfoto bersama. Semua tersenyum atau kadang mengeluarkan pose ajaib bin imut-imut.

Hasil akhirnya: Bahagia. Iya, saat itu saya bahagia. Tidak seperti sekarang. Kami tetap berteman, meski pada hari ini, masing-masing sudah memilih jalan sendiri. Hari ini, oh sebenarnya sejak saya mendapat kabar itu, saya sedih. Meski ini egois, hehe karena semuanya tak berjalan sesuai keinginan saya.

Well, setidaknya foto ini menjadi bukti kalau saya pun pernah bahagia.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: