Skip navigation

Monthly Archives: May 2009

Reaksi badan saya ketika saya merasa tidak nyaman adalah ingin muntah. Bukan hanya omongan, tapi literally mual, mata mau nangis, dan uweeeeeeekkkkk sebel banget pengen muntah.

Tadi sore, teman kantor yang sedang cuti hamil dan melahirkan datang ke kantor. Kantin, to be exact. Bersama suaminya. Waaaaaah, awalnya I was so excited. Soalnya cewek ini menyenangkan untuk berteman. Enggak ketemu berbulan-bulan, jadinya gitu deh. Senaaaang!

Beres cipika cipiki *and she’s smoking again now! hurray* obrolan pun berlanjut ke seputar kehamilan, proses melahirkan, dan how does it feels to have a baby.

Duh, sumpah saya senang sih. Teman saya bahagia, udah punya anak and so on. Tapi, tetap saja ngilu waktu dengar ceritanya. What else, lah, part melahirkan itu. Sudah bukan rahasia, kan, kalau proses itu menyakitkan sekali. Kalau kata orang Sunda, melahirkan itu rasanya seperempatnya mau mati (ngajurukeun teh sajurueun maot). Ibu saya, sering bercanda dengan bilang kalau dia sebenarnya udah lolos hitungan mati. Anaknya ada empat, which mean, empat sudut mati telah dicoba. Totalnya ¼ X 4 = 1 hehehehe.

Ngeri. Bergidik. Takut luar biasa. Itulah yang saya rasakan waktu G cerita mengenai dia yang diinduksi dua kali (suntiknya lewat tulang punggung bo) tapi baby-nya enggak keluar. Akhirnya caesar. Dan dua minggu setelah itu, sakitnya masih terasa. Haaaaaaduuuuuuhh mamamhh, aku takuuut!!!!

Dan saya mual. Pengen muntah. Pengen nangis. Terlebih ngebayangin betapa enggak cantiknya saya waktu hamil dan melahirkan. Pasti gendut dengan toket membengkak amit-amit. Hhhhhhh. Belum lagi, ketika membayangkan saya harus mengurus si bayi. Takut kelepasan kalau dia lagi rewel. Ih amit-amit, deh. Terus kalau dia udah gede dan nakal (sama kayak ibunya=me), saya harus gimana? Apakah semua hal akan berubah begitu punya anak?
Ah anyway, hearing her story made me think that my mom is the best, lah. Gila! Ibu ngelahirin empat anak dari vaginanya. *Omg! Gross.* Hehehhe. Mommy, I miss you =) and thank you for your countless passion in raising me. I know it’s not easy to deal with Scorpio, moreover you are a Scorpio yourself =p I love you, Ibu. Doain saya ya, bu, biar bisa kayak Ibu yang kuat melahirkan anak-anaknya. Hihihi, enggak sampai empat juga, sih =p

Advertisements

She’s my type
Tall, skinny, 32A, and a goody good smile
I always love her poetry
Her thoughts about life
How she handles her problems
The way she sings
Even when she’s smoking, I like her, period

And last night, I met her
I hugged her
Skin to skin
Sweat. Sweet. Wet.

“I like you. You are my type,” she said.

Was it the weeds?
The beers?
Or maybe it’s nothing. Purely jokes.

“I want to fuck you,” she replied my giggled (yeah that’s the best answer I could did. Giggling.)

Fuck.

I kissed a boy last night
In a shades of light

Pardon me
I’m just being me

It’s my insanity talking
And my mind that he’s stalking

Saya tidak pernah ingin menikah.
Saya tidak tertarik dengan konsep pernikahan.
Saya tidak suka dengan keribetan pra-hari h-pasca pernikahan.
Saya tidak suka datang ke acara pernikahan.

Saya tidak ingin menikah hanya karena “untuk membahagiakan orangtua”. Apalagi karena keburu tekdungtralalala. Atau “stuck” dengan pasangan dan malas mencari! Masalah usia udah tua? Ih, enggak deh!

Ini ngomong apa, sih? Heheheh. Anyway, hari ini saya bersyukur karena saya tidak tertarik dengan pernikahan. After listening to my friend’s marriage story, brrrrrrrr, untung aja saya tidak pernah pengen menikah. Twisted concept. Blurry thing about committing commitment for the sake of social conformity.

So until then, if you are lucky enough, maybe you’ll see me marrying someone. Not too soon, it’ll take a zillion years.

Pacar kamu lucu
Boleh berbagi?

Tidak ada yang rugi
Saya jamin
Semua pasti puas

Jadi
Boleh, kan?

1. Lika Aprilia
2. Saleh Husein
3. Eric Wirjanata
4. Aprilia Apsari
5. Astrid Stania Harahap
6. Sharifa Ainie
7. Anbia Sinqof Doytha
8. Dewi Nurfitriyana
9. Prita Prawirohardjo
10. Dimas Iriawan
11. Dendi Sukarno
12. Romy Palar
13. Tony Tandun
14. Nastainda Sadikin
15. Melati Hasanah Elandis
16. Anka Perkasa
17. Galuh Sitompul
18. Syauqy Lukman
19. Ade Bayu Indra
20. Tisha Amelia Anwar
21. Annelis Brilian
22. Hilmi Hanifah
23. Firda Fauziyah
24. Sita Winiawati Dewi
25. Anisa Okta Fenny
26. Katherine Moennig
27. Teguh Andrianto
28. Rynol Sarmond
29. Dosir Weis
30. Ratna Djuwita

THE QUESTIONS:
• How did you meet 10?
+ Waktu dia masih SMA, saya udah kuliah. Dia lagi main ma adik temen saya, dan saya lagi di rumah temen saya.

• What would you do if you had never met 6?
+ Apa ya, komputer saya enggak usah diinstalin ulang gara-gara virus yang dia bawa. Hehehe.

• What would you do if 20 and 15 dated?
+ Kayaknya susah ya. No. 20 udah kewong. Tapi 20 + 15 kayaknya will be a great team. They worked at a same media back then.

• If you could marry between 6 and 14 who will it be?
+ 6, I guess. She’s my type. No offense, Nastee. Kamu tetap di hatiku.

• Did you ever like 9?
+ Dulu. Sama-sama suka. Tapi kita hanya coba-coba *rasty mode on*

• Have you ever seen 4 cry?
+ Nope. Aries is a tough one.

• Would 4 and 12 make a good couple?
+ Mungkin. Nama panggilan no. 4 sama dengan nama istri no. 12.

• Would number 1 and 2 make a good couple?
+ The biggest betrayal and uhm, maybe I’ll say, “At last. My nightmare come true”

• Describe 8:
+ Khas ABG labil tapi untungnya pinter dan cantik hehhehe.

• Do you like 12?
+ Iyesss. As a friend, he’s the kindest of all.

• Tell me something about 17:
+ Tough yet fragile. Tapi dia adalah pedagang handal.

• What’s 7’s favorite color?
+ Black and white? Reffering to his photograph work.

• What would you do if 1 just confessed they liked you?
+ “Jijik, ih!” Huhu ewwwww, if she like me more than a friend.

• When was the last time you talked to number 15?
+ Kemarin. Cerita mengenai pindah kerja. Selamat ya, Mel!

• How do you think 19 feels about you?
+ I quoted, “Ade mah bosen lihat kamu, Cit”, couple of years ago.

• What languages does 13 speak?
+ Gossip Girl style. We do role playing, as Dorotha and Blair.

• Who is 2 going out with?:
+ Friends and me. Hihihihi.

• What grade is 16 in?
+ Semester berapa gitu. Pokoknya angkatan 2005 lah!

• What is 5’s favorite music?
+ Drew, hehehe. And her band’s label. Piss!!!

• Would you ever date 3?
+ I don’t think so. Tapi seperti kata Dewi Persik, “Tak ada yang tak mungkin,” ketika dia mengomentari hubungannya dengan Aldi Taher.

• Is 11 single?
+ On and off with her arabian girlfriend.

• What is 10s last name?
+ Iriawan.

• Would you ever want to be in a serious relationship with 7?
+ We’re friends, with benefit.

• Where does 18 live?
+ Kidang Pananjung, Dago.

• What do you think about 20?
+ Aries. I think that zodiac already explain a lot.

• What is the best thing about 4?
+ Her voice, her cook, and her artsy thingy.

• Is 21 hard-working?
+ Waktu dulu di ENCORE sih, uhm, agak moody yah. Tapi solider sih. Hehehe.

• What would you like to tell 14 right now?
+ “Nanti juga dateng, koq. Stop worrying it.”

• How did you meet 9?
+ Di multiply, home, Nouvelle Vague, RNRM, Dufan, and so many other places.

• What is the best and worst thing about 2?
+ The best: dia tahu apa yang dia inginkan. The worst: dia malas dan cepat menyerah. Huff untung ganteng =p

• Are you going to know 3 forever?
+ Amin.

• How long have you known 26?
+ Dari sejak saya nonton serial L Word. And I LOVE HER!!!

• Who is 24?
+ Teman. Teman baru di kantor. Mbok. Si Happy-Go-Lucky.

• Are you or did you ever date 28?
+ Smilling Tour termasuk?

• Do you have a crush on 27?
+ Hmm… he’s cute in his way aka bloon. Hahaha.

• Would you kiss 25?
+ Sure. Girl kisses on both of cheek. Cupcup!

• Have you hugged/kissed 22?
+ Iya lah. Adikkuuuuu itu!!

• Is 29 your bff?
+ Hmm, biasa aja. Tapi temenan sih. *mulai ga jelas*

• What do you hate about 23?
+ Nothing. She’s perfect. Yah namanya juga ABG. Ya, kan, de?

• What’s your relationship with 30?
+ Teman berbagi segala. Dari tiket sampai hmmm… yang enak-enak.

Saya selalu merasa mempunyai kadar testosteron melebihi batas wajar.
A man inside me? Could be.

Bukannya berhitung satu dua tiga alias pamrih. Tapi, menurut teman-teman, dalam setiap hubungan yang saya jalani, pasangan saya selalu mengandalkan saya. Termasuk yang sedang saya jalani sekarang.

Teman kantor saya bilang, jiwa saya tertukar dengan jiwa Jeng Wis aka Wisnu yang jauh lebih kemayu dibanding saya. Ya, dipanggilnya aja Jeng, gitu lho! Hellooo! Terus, kemarin waktu saya melakukan photo shoot, fotografer saya bilang, “Haa? Dia mah cowok banget kali!” waktu yang punya rumah bilang, “Sekarang lo jauh lebih cewek!”

Dia itu reffering to ME! Yeah, believe it or not, at that day I was wearing spring flowery dress with wedges on my petite feet. Kurang feminin apalagi? Tetep, enggak bisa nipu yee! Sial!

Lalu Minggu siang saya bilang kepada pacar, “Bi, kalau aku pake celana dalam cowok kayak gini gimana?” Mukanya cool seperti biasa, lalu dia jawab, “Tadi, aku kuliah dan dosennya bilang, kalau ada cewek pengen pake celana dalam cowok berarti cewek itu sempat atau sedang tertekan oleh laki-laki.” FYI, pacar saya baru pulang kuliah Antropologi Sosial Budaya, no wonder kalau materinya masih nempel. Hehehe.

Yeah, I admitted it. Saya sering sekali tertekan oleh laki-laki. I was in an abusive relationship for almost two and a half years, physically and mentally. And then rit now, I’m not in a healthy relationship either, mentally. So maybe he’s right. That the urge inside me of wearing men’s underwear come up because I was depressed. Double check, my psychologist once said that kinda thing to me.

You see, manusia selalu bersembunyi dari ketakutannya dengan memakai topeng. Ehm, enggak usah ngomong ketakutan, deh, ketidaknyamanan, misalnya. Saya memakai padupadan pakaian feminin sekalipun saya tidak suka, karena saya (entah kenapa merasa) harus menampakkan diri saya sebagai perempuan. Orang-orang yang rapuh menemboki dirinya dengan dinding yang tebal dan indestructible sehingga terlihat sebagai sosok yang kuat. Orang yang insecure cenderung menyalahkan orang lain atas segala “kesalahan” yang terjadi di hidupnya.

Yes. Everybody has their own shield to protect them from their Achiless heel. And how about my obsession of wearing men’s underwear? I guess, beside I’ll be so much cooler wearing it (yeah, silly me), it’ll make myself stronger. Imagine Hulk groaning AARRRRR ARRRRR to his enemy, that’s me outside when inside, I wear men’s underwear. Hihihi.

Freak.

Saya percaya kalau semua yang terjadi di dunia ini pasti mempunyai alasan.
Everything happen for a reason.

Berawal dari minggu lalu. Ketika saya dan teman-teman sedang nongkrong bersama salah satu artist yang sedang pameran di sebuah galeri. Pembicaraan lalu mengarah ke ibunya yang sedang terbaring sakit. Katanya, stroke membuat sang Ibu sudah tidak bisa bergerak.

Lalu ketika kemarin, Sabtu, saya liputan pemotretan sebuah apartemen. Saya menerima sebuah pesan pendek. Dari pacar. Mengabarkan kalau ibu si artist tadi sudah tiada. Dan akan dimakamkan sore ini.

Saya lalu mengobrol dengan si empu apartemen tadi, yang kebetulan profesinya adalah aktor komedi. Iseng, saya bertanya kepada dia, di mana sih, lokasi syutingnya setiap hari. Well, I did that after some names dropping hihihi. So lame, ya. Dia bilang, “Daerah Jatinegara. Pas flyover tinggal belok kiri…” Saya hanya melongo. Sekali-kalinya saya ke Jatinegara adalah untuk menyambangi pasar mainan di sana.

Pemotretan selesai. Beres. Rapih. Memuaskan. Ya, setidaknya tidak ada tirai jatuh sampai merusak plafon. Huhu. Saya meluncur ke Tebet. Teman-teman yang lain sudah ada di sana. Rencananya kami memang akan melayat artist itu sekaligus memakamkan sang Ibu.

Ngobrol sana-sini. “Di mana sih kuburannya?” and stuff, akhirnya kami pergi.
Tahukah kamu di mana kuburannya. Relax, ini bukan cerita misteri. Hihihi. Di tempat yang berdekatan dengan tempat artis tadi syuting. Hihihi.

Semua hal terhubung. Tanpa disadari. And that’s my reason today to cherish every moment in my life. Yeah, including when my partner reject me for having sex last night. Suck. Well, once again, everything happen for a reason. Mungkin alasannya kali ini adalah untuk absentia dari sex atau mencari gebetan baru.

Ada masanya, ketika saya bisa menangis dengan mudah untuk hal kecil. Tapi, untuk hal besar seperti ketika ada orang terdekat yang meninggal, saya dapat berdiri tegak menengadahkan kepala. Saya juga mudah sekali panik. Senggol saja dengan “masalah” yang berkaitan langsung dengan saya, kepanikan pun akan segera menyerang.

Sekarang? Susah sekali menangis apalagi panik.

Mungkin, karena saya sudah tertular dengan sifat seseorang yang sudah menjadi pacar selama tiga tahun. Orang yang paling santai sedunia. Saya yakin, kalau ada kebakaran di rumah *knock on wood*, dengan gayanya yang cuek, dia akan bilang, “Ya udah, santai aja. Apinya belum nyampe sini, kok.”

Dia, Al-Aries-27, adalah orang yang bertanggung jawab atas semua ini. It’s not that I blame him. Hehehe, of course not, Al. Malah, in some kinda strange way, saya senang karena dia mengubah saya menjadi orang yang lebih kalem menghadapi apapun. Kadang, suka sangat tidak peduli dan tidak ambil pusing.

Waktu handphone hilang. Dengan cueknya saya menelpon dia dan bilang, “Al, hape esiaku ilang.” That’s it. Tidak ada menangis apalagi panik seperti biasa. Hihihi. I’m amazed by myself. But still, I feel weird for being like that. Something wrong, my heart said.

Seperti hari ini. Saya tidak sengaja menjatuhkan tirai apartemen, tempat saya melakukan pemotretan. Sumpah, saya tidak sengaja. Saya sempat diam lama sekali dan berpikir, “I knew something bad gonna happen, dari awal pemotretan ini terlalu lancar (mengurus ini itunya).”

Ketika orang-orang berdatangan ke show unit, semua bengong dan saya merasa, “Oke! Saya harus panik! Act normal.” Dan saya panik. Berpura-pura panik, sebenarnya. Untuk apa, ya? Hahaha. Ih, jangan-jangan saya gila, tapi enggak sadar.

And sometimes, I wish I could be more fragile like I used to. Just like a few weeks ago, when I wrote “MELEDAK” at my blog. I wish I could silently cry. Hiding in a toilet didn’t help. I just blank-staring at the toilet door with motivational writing printed on it. “Okay, kamu bisa nangis, Cit. Itu bagus buat kamu. Bener, deh,” ujar hati saya.

Hasilnya?
Uhm, nothing.

%d bloggers like this: